Podium MI: Yang Muda yang Tercela

Dewan Redaksi Media Group, Jaka Budi Santosa. Foto: MI/Ebet.

Podium MI: Yang Muda yang Tercela

Media Indonesia • 21 May 2026 06:49

SEJARAH bangsa ini ditulis dengan tinta keberanian para pemuda. Mereka berulang kali membuat harum nama bangsa. Namun, belakangan, kiranya sebagian halaman sejarah itu mulai ditimpa coretan buruk berbau anyir, juga oleh pemuda.

Indonesia pernah percaya bahwa pemuda ialah mata air peradaban. Dari rahim kaum muda, lahir kebangkitan nasional melalui Boedi Oetomo, lalu meledak menjadi kesadaran kolektif dalam Sumpah Pemuda. Hari Kebangkitan Nasional saban 20 Mei baru saja kita peringati kemarin.

Mereka, anak-anak muda itu, bukan sekadar berusia belasan atau puluhan tahun. Mereka ialah manusia-manusia yang menolak hidup sebagai penonton, ogah menjadi objek di negara sendiri. Mereka membakar ketakutan seperti petani membakar ilalang sebelum musim tanam.

Pada masa lalu, pemuda berjalan bertongkatkan idealisme. Akan tetapi, hari ini, banyak pemuda berlalu lalang sambil menenteng pragmatisme. Dulu, pemuda berkumpul untuk merumuskan nasib bangsa. Namun, kini sebagian berkutat pada upaya untuk merumuskan dan mewujudkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri.

Lihatlah ironi yang bergelantungan seperti jemuran kusut di balkon Republik. Belum terlalu lama publik dibuat terhenyak oleh seorang anak muda bernama Nur Afifah Balqis. Pada Januari 2022, ia terjaring operasi tangkap tangan KPK, lalu ditetapkan sebagai tersangka korupsi dalam perkara suap yang melibatkan Bupati Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, saat itu, Abdul Gafur Mas'ud.

Korupsi memang bukan hal aneh di negeri ini. Namun, Nur Afifah tetap sanggup membuat publik geleng-geleng kepala. Usianya masing sangat muda. Baru 24 tahun. Karena itu, gelar tersangka koruptor paling muda dilekatkan kepadanya. Oleh Pengadilan Tipikor Samarinda, ia kemudian divonis penjara 4,5 tahun. Semuda itu sudah korupsi, alangkah tercelanya.

Namun, tunggu dulu. Ternyata masih ada yang lebih muda. Namanya Rici Sadian Putra yang menurut Indonesia Corruption Watch ditetapkan sebagai tersangka koruptor saat baru berumur 22 tahun. Bedanya, Rici bukan pejabat atau politikus. Ia satpam Bank Sumsel Babel Cabang Muaradua. Ia divonis bersalah karena merugikan negara Rp389 juta.

Bukan cuma Nur Afifah atau Rici yang muda yang korupsi. Ada cukup banyak sebelum dan sesudahnya yang berkelakuan sama. Masih ingat pegawai pajak Gayus Tambunan? Atau politikus Partai Demokrat saat itu, M Nazaruddin dan Angelina Sondakh, mantan Gubernur Jambi Zumi Zola, serta eks Wali Kota Tanjungbalai, Sumut, M Syahrial? Mereka juga sosok-sosok muda yang terlibat rasywah. Masih ada beberapa yang lain.

Tak cuma korupsi, bau amis diuarkan pemuda dalam urusan kekuasaan. Ada yang berkuasa karena sekadar pengaruh dari orangtua mereka. Berkat garis keturunan, bukan murni kemampuan. Bahkan, ada yang menjadi pemimpin karena mengakali konstitusi.

Bau tak sedap lagi-lagi datang dari anak muda. Perkaranya belum lama. Kejadiannya di Jember, Jawa Timur, tepatnya di ruang rapat DPRD setempat. Pelakunya Achmad Syahri Assidiqi, anggota dewan Komisi D yang baru berumur 26 tahun. Ia salah satu anggota termuda DPRD yang terpilih di Pileg 2024.

Ilustrasi generasi muda. Foto: Medcom.id.

Syahri menjadi buah bibir masyarakat lantaran perbuatannya yang tak layak. Dalam rapat dengan pendapat dengan beberapa mitra seperti dinas kesehatan, dinas sosial, dan BPJS Kesehatan, ia kedapatan bermain gim sembari merokok. Di ruangan tertutup berpendingin udara itu, ia tampak asyik memegang sigaret sambil memainkan gawainya.

RDP itu membahas isu-isu penting. Ada masalah campak. Ada pula soal stunting, angka kematian ibu dan bayi, hingga program universal health coverage. Namun, bagi Syahri, itu rupanya kalah penting ketimbang memberikan makan sapi dalam gim yang dimainkannya. Kepada Partai Gerindra yang memeriksanya, ia mengaku lupa memberikan asupan ke piaraan virtualnya. Konyol? Banget.

Sebagai anak muda, Syahri semestinya gigih mendobrak tradisi buruk para wakil rakyat yang tua-tua. Namun, ia malah berperilaku serupa. Perilaku yang tak cuma tak patut, tapi juga di luar nalar dan etika. Ia rupanya lupa atau pura-pura lupa bahwa kekuasaan bukanlah sofa malas, melainkan amanah rakyat yang wajib dibayar lunas.

Sungguh sulit dimengerti Syahri bermain gim ketika semestinya fokus ikut bicara hal-hal prioritas. Bagaimana bisa ia asyik merokok tatkala rapat membahas masalah kesehatan? Bukankah merokok katanya musuh kesehatan? Bukankah BPJS Kesehatan gencar mengampanyekan berhenti merokok? Syahri memang sudah meminta maaf. Sebagai anak muda, ia mengaku masih perlu banyak belajar dan berkomitmen memperbaiki diri. Oleh partainya, ia juga telah diberi sanksi teguran keras. Okelah kalau ia menyadari kesalahan. Namun, apa yang dilakukan di ruang rapat dewan tempo hari kiranya menjadi cela, catatan kelam, bagi pemuda yang sulit untuk dihapuskan.

Pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela pernah berujar, ''Youth of today are the leaders of tomorrow.'' Pemuda hari ini ialah pemimpin hari esok. Proklamator kita, Bung Karno, pernah bilang, ''Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia.''

Pertanyaannya, pemuda seperti apa yang dimaksud dua tokoh dunia itu? Jelas bukan mereka yang korupsi, yang mencampakkan etika, yang mempermainkan hukum, yang menggunakan kekuasaan sebagai medan pelampiasan kesenangan. Pokoknya bukan pemuda yang tercela.

(Dewan Redaksi Media Group Jaka Budi Santosa)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)