Rupiah Hari Ini Menguat, Simak Peran APBN dan Intervensi BI

Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.

Rupiah Hari Ini Menguat, Simak Peran APBN dan Intervensi BI

Ade Hapsari Lestarini • 24 April 2026 17:59

Jakarta: Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini menguat 57 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.229 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.286 per USD. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.278 per USD dari sebelumnya Rp17.308 per USD.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan kurs rupiah menguat ditopang keyakinan pemerintah Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) saat ini dalam posisi kuat menghadapi tekanan akibat konflik di Timur Tengah yang membuat harga komoditas energi melonjak.

"Saat harga minyak mentah bergejolak tinggi, dan nilainya di atas asumsi makro APBN 2026, yakni di atas USD100 per barel, pemerintah masih bisa menahan kenaikan harga, khususnya BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi dalam negeri tanpa harus menguras cadangan APBN dalam bentuk Saldo Anggaran Lebih (SAL)," ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Jumat, 24 April 2026.
 




Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
 

SAL pemerintah belum terpakai


Kini, SAL pemerintah dengan total nominal Rp423 triliun disebut belum terpakai untuk menghadapi tekanan belanja subsidi akibat kenaikan harga komoditas energi. SAL disebut menjadi sumber uang terakhir bagi pemerintah apabila anggaran belanja sudah tak mampu menahan target defisit di bawah tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Dengan kemampuan APBN yang masih melakukan efisiensi dan realokasi belanja-belanja ke sektor  prioritas, lanjutnya, pemerintah mengaku masih tenang untuk mengelola defisit APBN 2026 sesuai target di bawah 3 persen dari PDB, sebagaimana yang ditetapkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara.

Bank Indonesia turut menegaskan bakal memaksimalkan seluruh bauran kebijakan moneter. Intervensi dilakukan secara simultan di pasar offshore Non-Deliverable Forward (NDF), pasar spot, serta pasar domestik Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

"Tidak hanya itu, BI juga memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore, sebagai upaya untuk memperkuat stabilitas mata uang rupiah sekaligus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam bertransaksi," kata Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)