Ilustrasi. Foto: Magnific.
Risalah The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Akhir Tahun
Ade Hapsari Lestarini • 8 October 2026 17:32
New York: Sebagian besar pembuat kebijakan Federal Reserve (The Fed) menilai kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan dilakukan menjelang akhir 2026. Hal tersebut terungkap dalam risalah rapat kebijakan moneter The Fed pada September yang dirilis Rabu, 7 Oktober 2026 waktu setempat.
Dalam rapat tersebut, Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama dalam lebih dari tiga tahun. Secara terpisah, proyeksi suku bunga atau dot plot terbaru The Fed menunjukkan mayoritas pembuat kebijakan mengantisipasi setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi tahun ini.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan, kenaikan tersebut akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu ke target jangka panjang FOMC sebesar dua persen.
"Faktanya adalah inflasi terlalu tinggi dan kondisi ini sudah berlangsung terlalu lama," ujar Warsh kepada para wartawan, dilansir Investing, Kamis, 8 Oktober 2026.
"Prospek kebijakan moneter setelah rapat ini, sebagian besar peserta menilai kenaikan tambahan pada kisaran target suku bunga federal funds kemungkinan akan dilakukan menjelang akhir tahun," demikian bunyi risalah tersebut.
"Namun, para peserta menekankan mereka menyikapi setiap rapat dengan pikiran terbuka dan keputusan dalam rapat-rapat mendatang akan bergantung pada informasi yang masuk serta implikasinya terhadap prospek ekonomi dan keseimbangan risiko," tambah mereka.
Baca Juga :
Emas Dunia Tertekan usai Risalah The Fed
Seluruh peserta mendukung kenaikan suku bunga
Risalah tersebut juga menunjukkan seluruh peserta FOMC mendukung kenaikan suku bunga pada September. Keputusan tersebut disetujui dengan suara 12-0. Namun, peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan FOMC akhir Oktober disebut menurun dibandingkan saat keputusan September. Sentimen tersebut dipengaruhi komentar sejumlah pejabat The Fed serta perkembangan data ekonomi terkini.
Pekan lalu, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS tercatat naik 3,4 persen secara tahunan (year-on-year) pada Agustus, sementara PCE inti naik tiga persen secara tahunan. Kedua angka tersebut lebih rendah dari perkiraan dan sama dengan angka Juli.
Secara terpisah, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS kuartal kedua direvisi naik menjadi 2,2 persen dari sebelumnya 1,5 persen. Pada periode yang sama, laporan nonfarm payrolls September menunjukkan penambahan 29 ribu lapangan kerja, yang menandai laju perekrutan paling lambat tahun ini.

Ketua The Fed Kevin Warsh. Foto: dok Discovery Alert.
Secara keseluruhan, indikator tersebut menunjukkan ekonomi AS masih tumbuh, sementara inflasi tetap tinggi dan terdapat tanda perlambatan di pasar tenaga kerja. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan bagi pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas FOMC mempertahankan suku bunga acuan pada akhir Oktober mencapai hampir 81 persen, naik dari sekitar 54 persen sebulan sebelumnya.
"Para peserta umumnya menekankan inflasi masih tinggi sementara pasar tenaga kerja tampak mendekati kondisi full employment (pengerjaan penuh), dengan beberapa tanda penguatan, dan aktivitas ekonomi terus berkembang dengan laju yang solid. Selain itu, hampir seluruh peserta menilai bahwa meskipun risiko inflasi cenderung meningkat (tilted to the upside), risiko terhadap pasar tenaga kerja telah berkurang dan kini secara umum seimbang," demikian bunyi risalah tersebut.
"Berdasarkan prospek dan perubahan keseimbangan risiko, seluruh peserta memandang kisaran target suku bunga federal funds yang lebih tinggi adalah langkah yang tepat. Para peserta menilai hal ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target dua persen yang ditetapkan Komite secara lebih tepat waktu," tambah mereka.
Baca Juga :
Hadapi Banyak Tekanan, Ini Prediksi Harga Emas
Peserta terpecah
Para pejabat The Fed kemudian menunjukkan sikap yang lebih beragam dalam pernyataan publik setelah kenaikan suku bunga September. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyatakan tidak ada "urgensi" bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga, seraya menambahkan masih ada waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi.
Sehari kemudian, Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson juga menyerukan perlunya mencermati lebih banyak data ekonomi sebelum mengambil langkah kebijakan berikutnya. Jefferson turut menyoroti kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS sejak pertemuan The Fed September. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun disebut melonjak 28 basis poin sejak 16 September dan sempat mencapai level tertinggi sejak awal 2002.
Kenaikan imbal hasil terjadi ketika obligasi banyak dijual pelaku pasar. Kondisi tersebut meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen dan pelaku bisnis di AS, dengan dampak yang serupa dengan kenaikan suku bunga. Aksi jual obligasi AS juga merembet ke pasar utama lainnya. Kondisi tersebut dipengaruhi kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi akibat harga minyak, kebutuhan pembiayaan perusahaan untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), ekspektasi kebijakan moneter ketat (hawkish) dari bank sentral, serta persoalan fiskal di sejumlah negara seperti Prancis.
"Sejumlah peserta membahas faktor-faktor potensial di balik kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah (Treasury) tenor panjang baru-baru ini, seperti data yang mengindikasikan ekonomi lebih kuat, meningkatnya ekspektasi pinjaman terkait AI, dan perkembangan geopolitik. Banyak peserta berkomentar, meskipun imbal hasil Treasury tenor panjang sempat naik belakangan ini, kondisi keuangan tampaknya tetap mendukung pertumbuhan ekonomi; harga saham telah meningkat signifikan tahun ini dan selisih imbal hasil (spread) obligasi korporasi tetap rendah," tambah mereka.