Rupiah Ditutup Stagnan di Level Rp17.877/USD, Ini Penyebabnya

Rupiah. Foto: dok MI.

Rupiah Ditutup Stagnan di Level Rp17.877/USD, Ini Penyebabnya

Husen Miftahudin • 13 August 2026 16:21

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini tidak mengalami perubahan.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 13 Agustus 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.877 per USD. Mata uang Garuda tersebut bergerak stagnan dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Sore ini rupiah ditutup stagnan di Rp17.877 per USD. Kita lihat rupiah tadi sempat mengalami pelemahan tujuh poin, tapi sekarang stagnan," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.863 per USD. Rupiah menguat delapan poin atau setara 0,04 persen dari Rp17.871 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.882 per USD atau turun enam poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.876 per USD.
 

 

Ketegangan AS-Iran masih jadi perhatian


Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh ketegangan antara AS dan Iran. Perkembangan terkait Selat Hormuz menjadi perhatian karena kawasan tersebut berkaitan dengan jalur perdagangan dan distribusi energi global.

AS mengklaim telah menguasai Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran menyatakan kewenangan atas selat tersebut berada pada Iran dan Oman. Iran juga menyampaikan keinginan untuk mencapai perdamaian dengan syarat seluruh sanksi yang diberlakukan AS terhadap Iran dihapuskan.

Selain itu, perkembangan inflasi AS baik secara bulanan maupun tahunan tercatat mengalami penurunan sesuai dengan ekspektasi pasar. Perkembangan tersebut dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan The Fed dalam menentukan suku bunga.

"Jika harga minyak mentah mengalami penurunan, terdapat peluang The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada September," jelas Ibrahim.

Perubahan kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar karena dapat memengaruhi arus modal dan pergerakan nilai tukar.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Status Indonesia di MSCI masih Emerging Market


Dari sisi domestik, perkembangan indeks MSCI juga menjadi perhatian pasar. MSCI masih mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Emerging Market.

Meski terdapat penurunan peringkat pada sejumlah indikator, kondisi tersebut dinilai belum memberikan tekanan signifikan terhadap rupiah. Status Indonesia sebagai pasar berkembang yang masih dipertahankan MSCI dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar modal domestik.

Perkembangan lain yang turut menjadi perhatian adalah penunjukan kembali Plt Gubernur Bank Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto.

Keputusan tersebut mendapat respons positif dari pasar domestik maupun investor luar negeri. Sentimen tersebut turut membantu menjaga pergerakan rupiah sehingga cenderung stagnan pada penutupan perdagangan.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.870 per USD hingga Rp17.920 per USD," jelas Ibrahim.

(Husen Miftahudin)