Ilustrasi. Foto: MI/Susanto.
Rupiah Turun Tipis ke Rp16.866/USD Pagi Ini
Husen Miftahudin • 15 January 2026 09:48
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan, setelah sempat menguat kemarin.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 15 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.39 WIB berada di level Rp16.866,5 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah tipis 1,5 poin atau setara 0,01 persen dari Rp16.867 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.866 per USD. Mata uang Garuda tersebut juga turun 11 poin atau 0,07 persen dari Rp16.855 per USD.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.860 per USD hingga Rp16.890 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Rupiah Menguat Tipis di Level Rp16.865 per USD Sore Ini |
Data inflasi perkuat spekulasi penurunan suku bunga Fed
Ibrahim mengungkapkan, data indeks harga konsumen AS yang dirilis pada Selasa berada di bawah ekspektasi. CPI inti naik 0,2 persen pada Desember dan 2,6 persen secara tahunan, di bawah perkiraan, memperkuat spekulasi penurunan suku bunga di masa mendatang. Pasar sekarang memperkirakan sekitar dua kali penurunan suku bunga pada 2026.
Risiko geopolitik juga tetap menjadi fokus utama. Iran dilanda protes anti-pemerintah yang semakin intensif yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang, meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah.
Kerusuhan tersebut telah memicu peringatan dari Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan kemungkinan tindakan militer dan mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada negara-negara yang berbisnis dengan Iran.
Trump juga mendesak para pengunjuk rasa untuk meningkatkan tekanan pada kepemimpinan Iran, dengan mengunggah di media sosial bahwa mereka harus "mengambil alih institusi Anda dan bantuan sedang dalam perjalanan".
Di sisi lain, kekhawatiran atas independensi bank sentral AS setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal yang melibatkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
"Meskipun perkembangan ini membuat investor gelisah, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar secara terbuka mendukung Powell, menekankan pentingnya menjaga otonomi Fed di tengah tekanan politik," tutur Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Optimisme ekonomi RI tumbuh 5,4%
Sementara itu, pemerintah mencanangkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dapat dicapai tahun depan. Bahkan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis mencapai 6,0 persen.
Defisit pemerintah ditargetkan turun ke 2,7 persen terhadap PDB dibandingkan realisasi 2025 sebesar 2,82 persen dari PDB. ?Angka defisit itu dicapai berdasarkan pertumbuhan pendapatan yang kuat (14,4 persen) dan pengeluaran yang lebih tinggi (11,3 persen).
"Meskipun demikian, para ekonom memiliki pandangan defisit akan di atas dari apa yang ditargetkan pemerintah. Untuk hasil yang realistis, dengan defisit 2,8 persen-3,0 persen dari PDB, karena pertumbuhan pendapatan mungkin akan melambat dan reformasi pengeluaran terus berlanjut," papar Ibrahim.
Pertumbuhan pendapatan negara diperkirakan satu digit. ?Meskipun demikian, pertumbuhan pendapatan akan didukung oleh peningkatan secara bertahap konsumsi dan investasi domestik, serta potensi dorongan dari harga komoditas global yang lebih tinggi.
Sementara dari sisi pengeluaran, berpotensi kembali kurang dari target, terutama dalam transfer ke daerah, karena pemerintah terus mereformasi kebijakan pelaksanaan anggaran.