Harga Emas Dunia Naik Tipis di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga The Fed

Ilustrasi emas batangan. Foto: fox5ny.com

Harga Emas Dunia Naik Tipis di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga The Fed

Husen Miftahudin • 4 August 2026 08:49

Chicago: Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Senin waktu setempat di tengah penurunan harga minyak dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Pelaku pasar menilai data tersebut akan menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
 
Mengutip Investing.com, Selasa, 4 Agustus 2026, harga emas spot naik 0,3 persen menjadi USD4.055,25 per troy ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas menguat 0,1 persen ke level USD4.111,05 per troy ons.
 
Sentimen pasar berubah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran dan memilih melanjutkan jalur negosiasi.
 
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya pembicaraan dengan Washington. Perbedaan pernyataan tersebut memicu ketidakpastian mengenai peluang tercapainya kesepakatan, termasuk prospek pembukaan penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz.
 

 

Prospek suku bunga The Fed batasi penguatan emas

 
Pelaku pasar juga masih mencermati hasil rapat Federal Reserve pekan lalu yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Keputusan tersebut tidak diambil secara bulat karena tiga presiden bank sentral regional menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
 
Selain itu, Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai belum mampu memberikan keyakinan kepada pasar bahwa inflasi telah sepenuhnya terkendali. Sikap yang masih cenderung agresif terhadap kebijakan moneter membuat ruang kenaikan harga emas menjadi terbatas.
 
Secara teknikal, harga emas spot juga masih bergerak di bawah rata-rata pergerakan (moving average) utama, yakni SMA 50 hari, 100 hari, dan 200 hari. Kondisi tersebut menunjukkan tren jangka pendek masih cenderung melemah sehingga potensi penguatan dinilai belum terlalu kuat.
 
Suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Pasar menanti data ekonomi AS

 
Di pasar valuta asing, pergerakan dolar AS relatif stabil setelah muncul laporan mengenai dugaan intervensi otoritas Jepang di pasar mata uang untuk menopang nilai tukar yen.
 
Analis ING menilai penurunan harga minyak juga berpotensi memberikan tekanan terhadap dolar AS, seiring pernyataan Donald Trump yang lebih mengedepankan jalur negosiasi dibandingkan opsi militer dalam menghadapi Iran.
 
Fokus investor kini beralih pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis pekan ini, terutama laporan ketenagakerjaan atau non-farm payrolls (NFP) periode Juli yang diperkirakan menjadi acuan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter The Fed.

(Husen Miftahudin)