Ilustrasi. Foto: OCBC NISP.
Inflasi AS Capai 3,4%, Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed Menguat
Husen Miftahudin • 12 September 2026 12:29
New York: Harga konsumen Amerika Serikat (AS) meningkat dengan laju bulanan yang lebih cepat pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut didorong lonjakan biaya energi dan memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan.
Mengutip Xinhua, Sabtu, 12 September 2026, Indeks harga konsumen (CPI) AS meningkat 0,4 persen secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman pada Agustus. Secara tahunan, tingkat inflasi mencapai 3,4 persen, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Jumat, 11 September 2026.
Sementara itu, CPI inti yang tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi yang bergejolak tercatat 2,4 persen secara tahunan.
Kedua angka tersebut memperkuat pandangan investor mengenai inflasi AS yang masih terlalu tinggi bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat saat ini.
Percepatan inflasi bulanan terutama didorong sektor energi. Harga bensin melonjak 3,9 persen pada Agustus dan menyumbang lebih dari sepertiga dari total kenaikan CPI bulanan.
Indeks energi secara keseluruhan naik 2,1 persen pada Agustus dan melonjak 16,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan harga energi yang kuat akibat konflik Iran.
Harga diesel AS tembus USD6/galon
Dampak kenaikan harga energi tidak hanya dirasakan melalui harga bensin, tetapi juga berpotensi memengaruhi rantai pasokan yang lebih luas.
Menurut American Automobile Association (AAA), harga rata-rata diesel secara nasional mencapai USD6 per galon pada Jumat. Kondisi tersebut menjadi indikasi terbaru mengenai dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi.
Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett mengakui adanya tekanan besar pada harga bahan bakar diesel. Hassett menyebut terdapat "masalah yang sangat besar" pada bahan bakar diesel. Ia mengaitkan kenaikan harga tersebut dengan konflik yang masih berlangsung di luar negeri.
Adapun, pasar minyak global turut mencerminkan volatilitas akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent melonjak dalam perdagangan semalam di tengah meningkatnya konflik di Selat Hormuz.
Harga Brent sempat mencapai level tertinggi dalam empat bulan, yakni hampir USD110 per barel, sebelum kembali turun ke sekitar USD104 per barel. Kenaikan harga energi menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Fed diramal bakal kerek suku bunga
Laporan CPI Agustus menjadi salah satu indikator inflasi utama terakhir yang akan ditinjau The Fed sebelum pertemuan kebijakan selama dua hari pada pekan depan.
Pertemuan tersebut akan berakhir pada Rabu dengan pemungutan suara mengenai suku bunga acuan. Setelah data CPI dirilis, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga berada di sekitar 90 persen.
Analis ekonomi bank ING James Knightley menilai inflasi utama dan inflasi inti AS masih berada di atas tingkat bulanan yang diperlukan untuk membawa inflasi tahunan menuju target 2 persen The Fed.
"Inflasi utama dan inflasi inti AS jauh di atas tingkat tren bulanan 0,17 persen yang dibutuhkan untuk menurunkan tingkat tahunan ke target 2 persen Federal Reserve," kata James Knightley.
Knightley juga menilai sikap Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi tahunan Jackson Hole dapat memperkuat dorongan untuk menaikkan suku bunga pada pekan depan.
"Mengingat pernyataan agresif Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, ia akan mendorong kenaikan suku bunga minggu depan dan mayoritas di FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) kemungkinan akan setuju," ujar Knightley.