Turun 0,15%, Rupiah Ditutup ke Level Rp18.184/USD Sore Ini

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Turun 0,15%, Rupiah Ditutup ke Level Rp18.184/USD Sore Ini

Gervin Nathaniel Purba • 28 October 2026 16:42

Jakarta: Nilai tukar rupiah terpantau masih loyo terhadap dolar AS (USD) pada penutupan perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. Dikutip dari Bloomberg, rupiah bergerak turun 28 poin atau 0,15 persen menjadi Rp18.184 per USD, dibandingkan penutupan sore kemarin pada level Rp18.156 per USD.
 
Jika dilihat dari data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, mata uang Garuda tercatat melemah pada level Rp18.183 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp18.139 per USD.
 
Sementara data Yahoo Finance mencatat rupiah juga melemah 150 pon atau setara 0,83 persen. Rupiah ditutup ke level Rp18.175 per USD.
 
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 28 poin. Sebelumnya sempat melemah 30 poin pada level Rp18.184 per USD dari penutupan sebelumnya pada level Rp18.156 per USD," kata Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, dalam keterangan tertulis, Rabu, 28 Oktober 2026.

 
 
Tekanan harga minyak
 
Menurut riset Ibrahim, tidak berdayanya rupiah dipengaruhi harga minyak yang bertahan di atas USD100 per barel. Hal ini dapat meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara. Terutama melalui kenaikan biaya subsidi dan kompensasi energi.
 
Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit APBN jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan negara atau penghematan belanja. Selain itu, kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi dan meningkatkan biaya produksi serta transportasi.
 
"Pemerintah perlu menjaga keseimbangan anggaran, mengendalikan subsidi agar tepat sasaran, dan memastikan pasokan energi tetap stabil," kata Ibrahim.


Mengapa Nilai Rupiah Bisa Naik-Turun? Ini Penjelasannya

(Ilustrasi. Foto: dok MI)

 
Khawatirkan Kebijakan BI
 
Selain itu, pasar mengkhawatirkan arah kebijakan Bank Indonesia (BI), karena terdapat potensi perbedaan antara upaya menjaga stabilitas rupiah dan kebutuhan mendukung pertumbuhan ekonomi. Jika BI menaikkan suku bunga, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang, tetapi biaya pinjaman berpotensi meningkat dan aktivitas ekonomi melambat.
 
"Jadi pada intinya kejelasan komunikasi dan konsistensi kebijakan BI sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor, menstabilkan rupiah, serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia," tuturnya.
 
Ibrahim memprediksi mata uang Garuda bergerak fluktuatif untuk perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Rupiah diprediksi ditutup melemah pada rentang Rp18.180 per USD hingga Rp18.230 per USD.
 
"Sedangkan perdagangan dalam minggu depan pada rentang Rp17.900 hingga Rp18.250 per USD," ucap dia.

(Gervin Nathaniel Purba)