Ilustrasi, kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: dok MI.
Rupiah Menguat Lagi Pagi Ini ke Rp16.902
Husen Miftahudin • 22 January 2026 09:59
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami penguatan, setelah langkah Bank Indonesia (BI) yang mengeluarkan kebijakan moneter untuk menahan suku bunga BI Rate.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 22 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.52 WIB berada di level Rp16.902 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat sebanyak 34 poin atau setara 0,20 persen dari Rp16.936 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.958 per USD. Mata uang Garuda tersebut justru turun 28 poin atau 0,17 persen dari Rp16.930 per USD.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.930 per USD hingga Rp16.950 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Berkat BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Akhirnya Bisa Pukul Mundur Dolar AS |
Trump bersikukuh beli Greenland
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen pentingnya strategi Greenland yang membuat ketegangan baru antara AS dan Uni Eropa.
"Presiden AS Donald Trump bersikeras 'tidak ada jalan mundur' terkait Greenland, dengan alasan kekhawatiran keamanan di Arktik, dan mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa, yang semakin memperburuk pasar yang sudah tegang akibat risiko perdagangan global," jelas Ibrahim.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Eropa tidak akan tunduk pada 'para pengganggu', menekankan rasa hormat dan kerja sama, bukan paksaan, yang seharusnya mendefinisikan hubungan antarsekutu.
Pernyataannya, yang disampaikan di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, menggarisbawahi meningkatnya keresahan di Eropa atas retorika dan ancaman perdagangan Washington yang terkait dengan sengketa Greenland.
Trump berusaha menenangkan kekhawatiran dengan mengatakan AS sedang mengupayakan solusi atas masalah ini dan bertujuan untuk mencapai hasil yang memuaskan NATO, tetapi investor tetap berhati-hati.
Selain itu, penentangan Eropa terhadap upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dan inisiatif Dewan Perdamaian yang diusulkannya telah mengganggu rencana paket dukungan ekonomi untuk Ukraina pascaperang.
"Pengumuman rencana kemakmuran senilai USD800 miliar yang direncanakan akan disepakati antara Ukraina, Eropa, dan AS di Forum Ekonomi Dunia di Davos minggu ini telah ditunda," tutur Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pelebaran defisit fiskal hingga BI Rate ditahan
Di sisi lain, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelebaran defisit fiskal 2,92 persen pada APBN 2025 atau mendekati ambang batas tiga persen adalah langkah sengaja guna memacu pemulihan ekonomi nasional. Kebijakan ini diambil sebagai strategi countercyclical guna membalikkan tren perlambatan ekonomi yang membayangi Indonesia sepanjang 2025.
Purbaya menjelaskan, intervensi fiskal yang agresif sangat dibutuhkan untuk menghidupkan kembali sisi permintaan dan penawaran di dalam negeri. Tanpa dorongan APBN yang optimal, ia menilai perekonomian nasional berisiko terperosok ke dalam jurang krisis.
Kebijakan ini telah mulai membuahkan hasil dengan berbaliknya arah perekonomian ke zona positif. Ia optimistis prospek ekonomi ke depan akan jauh lebih baik berkat keputusan berani yang ia sebut sebagai 'kebijakan fiskal cerdas'.
Secara bersamaan, Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan, BI Rate, di level 4,75 persen pada Desember 2025. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap bertahan di 3,75 persen dan suku bunga lending facility di 5,5 persen.
Keputusan ini konsisten menjaga rupiah di tengah ketidakpastian global dengan memperkuat efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial untuk jaga stabilitas dan dorong ekonomi ke depan.
"Kendati mempertahankan suku bunga pada Januari ini, BI masih menegaskan ruang penurunan suku bunga terbuka lebar. Namun, penurunan akan dibarengi oleh perkiraan inflasi pada tahun ini yang berada di sasaran 2,5 persen plus minus satu persen," ujar Ibrahim.