Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.
Rupiah Hari Ini Ditutup di Level Rp17.725/USD
Husen Miftahudin • 16 June 2026 16:05
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 16 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.725 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 16 poin atau setara 0,09 persen dari posisi Rp17.709 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 16 poin, sebelumnya sempat menguat lima poin di level Rp17.725 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.709 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.695 per USD. Rupiah justru menguat sebanyak 19 poin atau setara 0,11 persen dari Rp17.714 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.
| Baca juga: Naik Tipis, Rupiah Pagi Ini Nangkring di Level Rp17.690/USD |
Konflik AS-Iran reda, Selat Hormuz kembali dibuka
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Washington dan Teheran yang mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz, meredakan kekhawatiran inflasi dan menekan dolar AS.
Kerangka kerja perdamaian, yang diharapkan akan ditandatangani secara resmi akhir pekan ini, telah memicu penurunan tajam harga minyak dan meningkatkan sentimen risiko di pasar global.
"Investor menunggu rincian tentang waktu implementasi perjanjian tersebut karena kedua negara mengatakan gencatan senjata permanen masih perlu dinegosiasikan," ungkap Ibrahim.
Menurut dia, perhatian pasar sekarang beralih ke serangkaian keputusan bank sentral utama minggu ini. Bank Sentral Jepang (BOJ) menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendeknya sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen, level tertinggi dalam 31 tahun, dalam langkah yang telah banyak diantisipasi yang bertujuan untuk menahan inflasi dan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap.
Para pedagang kini menunggu pengumuman kebijakan dari Federal Reserve AS dan Bank of England akhir pekan ini. Pasar akan mengamati dengan cermat komentar dari Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga AS di masa mendatang.
"Data inflasi dan kekhawatiran yang masih ada tentang tekanan harga telah menyebabkan investor mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga tahun ini," papar Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Ancaman tarif tambahan ekspor RI ke AS
Di sisi lain, lanjut Ibrahim, perang dagang kembali bergemuruh setelah rencana AS untuk mengganjar tarif impor baru terhadap sejumlah produk Indonesia berpotensi menekan kinerja ekspor produk manufaktur nasional.
"Tidak hanya mengurangi daya saing produk di pasar AS, kebijakan tersebut juga berisiko memengaruhi utilisasi pabrik, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut," papar dia.
Kekhawatiran itu muncul seiring rencana penerapan tarif tambahan berbasis Pasal 301 Trade Act 1974 yang akan berlaku bertahap mulai 24 Juli 2026. Sebelumnya, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) telah menetapkan forced labor tariff sebesar 10 persen terhadap Indonesia dan lima negara lainnya.
Pemerintah memperkirakan tarif untuk produk Indonesia dapat meningkat hingga 18 persen setelah investigasi terkait kapasitas berlebih (excess capacity) selesai dilakukan. Saat ini, ekspor Indonesia ke AS masih dikenai tarif global 10 persen berdasarkan Pasal 122 Trade Act AS yang berlaku sejak Februari 2026.
"Di tengah ancaman tersebut, pemerintah berupaya mengamankan sejumlah produk ekspor unggulan," terang Ibrahim.
Bagi Indonesia, pasar AS memiliki arti penting. AS merupakan pasar nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia. Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada Januari–Juni 2025 mencapai USD14,79 miliar atau sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Produk yang diekspor juga didominasi sektor manufaktur, seperti mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian, serta aksesori.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali menguat.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.690 per USD hingga Rp17.728 per USD," jelas Ibrahim.