Dolar AS Melemah, Investor Pantau Data Tenaga Kerja

Dolar AS. Foto: Xinhua/Zhang Chunlei.

Dolar AS Melemah, Investor Pantau Data Tenaga Kerja

Husen Miftahudin • 3 September 2026 08:51

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) sedikit melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah menguat pada sesi sebelumnya. Penguatan dolar sebelumnya didorong statusnya sebagai aset safe haven di tengah kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah.
 
Mengutip Investing.com, Kamis, 3 September 2025, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,1 persen menjadi 99,60. Pada perdagangan Selasa, indeks tersebut menguat 0,3 persen.
 
Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut mendorong investor kembali mengalihkan perhatian ke pasar saham. Pada Selasa, imbal hasil obligasi pemerintah AS dan sejumlah obligasi acuan di negara lain mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
 
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak November 2023, sedangkan imbal hasil tenor dua tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.
 
Kenaikan imbal hasil dipicu kekhawatiran terhadap inflasi akibat tingginya harga minyak, potensi peningkatan utang perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta membengkaknya utang fiskal.
 
Imbal hasil yang lebih tinggi meningkatkan biaya pinjaman dan berpotensi membebani konsumen serta dunia usaha. Kondisi suku bunga tinggi juga cenderung memberikan dukungan terhadap nilai dolar AS.
 
Namun, tekanan di pasar obligasi mulai mereda pada Rabu. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 1,2 basis poin menjadi 4,784 persen. Sementara imbal hasil tenor dua tahun turun 2,1 basis poin menjadi 4,373 persen.
 

 

Data tenaga kerja jadi perhatian

 
Pelaku pasar juga mencermati sejumlah indikator ekonomi AS menjelang rilis laporan nonfarm payrolls untuk Agustus pada Jumat.
 
Data ADP menunjukkan perusahaan swasta di AS menambah 38 ribu lapangan kerja pada Agustus. Angka tersebut berada di bawah perkiraan 47 ribu dan menjadi laju pertumbuhan lapangan kerja paling lambat sejak Januari.
 
Namun, data ketenagakerjaan tersebut diimbangi oleh aktivitas sektor manufaktur yang relatif kuat. Pesanan baru barang manufaktur meningkat 0,9 persen secara bulanan pada Juli menjadi USD663,60 miliar. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan kenaikan 0,7 persen.
 
Data ekonomi lainnya datang dari Beige Book terbaru Federal Reserve. Laporan tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi regional AS sedikit meningkat sejak awal Juli. Sebanyak 10 dari 12 distrik Federal Reserve melaporkan pertumbuhan ekonomi dalam kisaran ringan hingga moderat.
 
Perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian pelaku pasar dalam menilai kondisi perekonomian AS dan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
 
Di pasar komoditas, harga minyak kembali menguat, tetapi kenaikannya lebih terbatas dibandingkan perdagangan Selasa. Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November, yang menjadi patokan global, naik 0,6 persen menjadi USD95,26 per barel.
 
Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent melonjak 4,6 persen. Kenaikan harga minyak masih dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Ketegangan AS-Iran kembali meningkat

 
Komando Pusat AS pada Selasa menyatakan telah menyelesaikan serangkaian serangan baru terhadap sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), termasuk fasilitas pertahanan udara, sistem radar, dan fasilitas komunikasi.
 
AS dan Iran sebelumnya berada dalam kebuntuan terkait kendali atas Selat Hormuz hingga akhir pekan lalu. Presiden AS Donald Trump kemudian disebut mengubah pendekatan dari serangan militer menuju tekanan ekonomi.
 
Namun, aktivitas militer kembali berlangsung pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Juli. Perkembangan tersebut membuat kondisi geopolitik di kawasan kembali menjadi perhatian pasar keuangan dan komoditas.

(Husen Miftahudin)