Rupiah Pagi Ini Naik 0,22% ke Rp16.762

Ilustrasi. Foto: dok MI.

Rupiah Pagi Ini Naik 0,22% ke Rp16.762

Husen Miftahudin • 26 February 2026 10:06

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 26 Februari 2026, rupiah hingga pukul 09.56 WIB berada di level Rp16.762 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 37 poin atau setara 0,22 persen dari Rp16.799 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.808 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.800 per USD hingga Rp16.830 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp16.800/USD Rabu Sore
 

Trump mulai berlakukan tarif impor baru 10%


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar dimana Amerika Serikat (AS) mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10 persen pada Selasa, dengan pemerintahan Trump berupaya meningkatkan tarif tersebut menjadi 15 persen, sebuah langkah yang telah memicu ketidakpastian atas perdagangan global dan inflasi. 

"Tindakan tarif ini menyusul putusan Mahkamah Agung AS pekan lalu yang membatalkan bea masuk besar-besaran yang sebelumnya diberlakukan berdasarkan kekuasaan darurat, mendorong Washington untuk memperkenalkan kembali tarif berdasarkan otoritas hukum alternatif," jelas Ibrahim.

Ketegangan geopolitik juga tetap menjadi fokus, Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan Teheran siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Kedua pihak akan mengadakan putaran ketiga pembicaraan pada hari Kamis di Jenewa di tengah meningkatnya ketegangan atas potensi bentrokan militer antara Washington dan Teheran.

Namun, ekspektasi suku bunga AS akan tetap tinggi. Presiden Federal Reserve Boston Susan Collins mengatakan suku bunga kemungkinan akan tetap tidak berubah untuk beberapa waktu karena data ekonomi terbaru menunjukkan perbaikan di pasar tenaga kerja, sementara risiko inflasi tetap ada, menurut Bloomberg.

Ketua Federal Reserve Chicago Austin Goolsbee menolak ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, dengan alasan suku bunga harus tetap tidak berubah karena inflasi masih di atas mandat dua persen Fed. Ketua Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic menggemakan sikap tersebut, menggarisbawahi perlunya menjaga inflasi tetap menjadi fokus utama.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Ketahanan ekonomi Indonesia masih memadai


Sementara itu, Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat Baa2 terhadap obligasi berdenominasi yuan offshore Tiongkok dan euro yang diterbitkan Pemerintah Indonesia dengan mekanisme shelf registration (obligasi berkelanjutan) senilai USD10 miliar.

Secara fundamental, Moody’s masih menilai Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang memadai. Dukungan dari kekayaan sumber daya alam serta struktur demografi yang relatif menguntungkan menjadi bantalan pertumbuhan jangka menengah.

Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Indonesia akan bertahan di kisaran lima persen dalam beberapa tahun ke depan, dengan defisit fiskal tetap berada di bawah ambang batas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam kerangka makro konvensional, ini merupakan indikator stabilitas yang selama dua dekade terakhir menopang kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia.

"Namun, stabilitas tersebut saat ini tengah dibayangi oleh meningkatnya ketidakpastian dalam proses perumusan kebijakan. Moody’s secara eksplisit mencatat bahwa prediktabilitas dan koherensi kebijakan telah melemah dalam setahun terakhir, kemudian juga diperparah oleh komunikasi kebijakan yang kurang efektif. Kombinasi ini berkontribusi pada meningkatnya volatilitas di pasar ekuitas dan valuta asing," papar Ibrahim.

Masalah mendasar terletak pada dilema klasik fiskal Indonesia, yaitu kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan melalui ekspansi belanja publik di tengah basis penerimaan negara yang sempit. Pemerintah diperkirakan akan semakin mengandalkan belanja fiskal untuk mendukung agenda pembangunan, termasuk program ketahanan pangan dan perumahan terjangkau.

Namun, terbatasnya kemampuan pemerintah dalam memperluas basis pajak malah meningkatkan risiko pelebaran defisit fiskal dalam jangka menengah, terutama jika ekspansi belanja tidak diimbangi oleh reformasi penerimaan yang signifikan. Moody’s memperkirakan rasio utang pemerintah akan tetap stabil di sekitar 40 persen terhadap PDB, atau masih di bawah median negara-negara dengan peringkat serupa.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)