Rupiah Jumat Pagi Naik 0,21% ke Level Rp18.073/USD

Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Adam Dwi.

Rupiah Jumat Pagi Naik 0,21% ke Level Rp18.073/USD

Husen Miftahudin • 31 July 2026 09:51

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami kenaikan.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 31 Juli 2026, rupiah hingga pukul 09.44 WIB berada di level Rp18.073 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 38 poin atau setara 0,21 persen dari Rp18.111 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.073 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp18.110 per USD hingga Rp18.160 per USD," jelas Ibrahim.
 

 

Ketegangan geopolitik dan sikap The Fed tekan rupiah


Ibrahim menjelaskan pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan yang lebih besar terhadap Iran menyusul serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Yordania.

Di saat yang sama, Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Washington juga kembali melakukan operasi militer terhadap Iran setelah sempat menghentikan serangan sejak akhir pekan.

Situasi tersebut semakin memanas setelah Iran menutup jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman juga memberlakukan blokade laut di Laut Merah yang mengganggu aktivitas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb.

Selain sentimen geopolitik, pasar turut mencermati hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50-3,75 persen. Meski demikian, keputusan tersebut diwarnai perbedaan pandangan di kalangan anggota Federal Open Market Committee (FOMC), dengan tiga anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan kondisi pasar yang lebih ketat telah membantu proses pengendalian inflasi. Namun, ia menegaskan bank sentral siap mengambil langkah lebih lanjut apabila tekanan inflasi kembali meningkat.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Perlambatan ekonomi domestik jadi perhatian


Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati prospek perlambatan ekonomi Indonesia. Sejumlah ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 berada di kisaran 4,8-4,9 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.

Perlambatan tersebut diperkirakan dipicu meningkatnya biaya produksi akibat gejolak global, kebijakan moneter yang lebih ketat, serta ketidakpastian pengelolaan fiskal di dalam negeri. Untuk sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada pada kisaran 4,9-5,1 persen atau di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.

Selain itu, investor masih menunggu kepastian mengenai suksesi kepemimpinan Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.

Pasar juga mencermati tekanan fiskal daerah, hambatan ekspor mineral, serta sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan depan, antara lain inflasi Juli, neraca perdagangan, cadangan devisa, produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026, dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

(Husen Miftahudin)