Dolar AS. Foto: dok MI.
Dolar AS Ditutup Melemah Pekan Ini
Husen Miftahudin • 18 July 2026 10:07
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak stabil pada perdagangan Jumat waktu setempat, tetapi menutup pekan ini dengan pelemahan setelah data inflasi AS yang lebih moderat mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 18 Juli 2026, indeks dolar yang mengukur pergerakan mata uang AS terhadap enam mata uang utama berada di level 100,76. Secara mingguan, indeks tersebut diperkirakan melemah sekitar 0,2 persen.
Pada awal pekan, indeks dolar sempat menyentuh level terendah dalam satu bulan akibat berkurangnya peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, meningkatnya permintaan terhadap aset aman membantu menopang pergerakan dolar di akhir pekan.
Euro diperdagangkan stabil di USD1,1436, sekaligus membukukan penguatan sekitar 0,2 persen sepanjang pekan. Sementara itu, poundsterling melemah 0,2 persen menjadi USD1,3455, meski tetap mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut.
Penguatan mata uang Britania Raya itu didukung data pertumbuhan ekonomi Inggris yang positif serta meningkatnya optimisme terhadap stabilitas politik setelah laporan yang menyebut Perdana Menteri terpilih Andy Burnham akan menunjuk menteri keuangan dari kelompok sentris.
Dolar Australia juga menorehkan penguatan untuk pekan ketiga berturut-turut, meski pada perdagangan Jumat turun 0,23 persen menjadi USD0,6980. Pelemahan dipicu meningkatnya sentimen penghindaran risiko di tengah penurunan pasar saham global.
Di pasar Asia, dolar AS diperdagangkan di 162,45 yen Jepang, sedikit lebih tinggi dibanding sesi sebelumnya di 162,39 yen. Sementara itu, dolar AS melemah terhadap franc Swiss menjadi 0,8075, dolar Kanada menjadi 1,4011, dan krona Swedia menjadi 9,6497.
Konflik AS-Iran dorong permintaan aset aman
Permintaan terhadap aset aman meningkat seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berlanjut. Ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak ke level tertinggi dalam hampir satu bulan.
Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman Elias Haddad mengatakan tekanan di pasar saham global dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
"Penurunan tajam pasar ekuitas global yang dipicu oleh sektor teknologi dan gangguan berkelanjutan terhadap lalu lintas di Selat Hormuz telah memicu perpindahan aset ke tempat yang aman. USD pulih sebagian dari kerugian minggu ini, dan imbal hasil obligasi global sedikit menurun," kata Haddad.
Di sisi lain, sentimen konsumen AS meningkat ke level tertinggi dalam lima bulan pada Juli. Namun, pelaku pasar menilai perbaikan tersebut berpotensi bersifat sementara karena konflik di Timur Tengah dapat kembali mendorong kenaikan harga energi.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Data ekonomi AS redakan ekspektasi kenaikan suku bunga
Data ekonomi terbaru menunjukkan penjualan ritel AS naik tipis pada Juni. Meski pendapatan SPBU tertekan akibat turunnya harga bensin, peningkatan transaksi belanja daring mendorong ekonom merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II.
Stabilnya pasar tenaga kerja turut memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh. Kondisi tersebut membuat sebagian besar ekonom memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir Juli.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada Juli turun menjadi 14 persen, dari 25 persen pada pekan sebelumnya. Pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga sekitar 30 basis poin hingga akhir tahun. Osborne menilai ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga masih relatif tinggi.
"Menurut saya, harga itu masih sangat tinggi. Kita mungkin telah melihat, setidaknya untuk saat ini, puncak nilai dolar sekitar beberapa minggu yang lalu," jelas Osborne.