Rupiah Ditutup Naik 0,37% ke Level Rp17.818/USD Rabu Ini

Rupiah dan dolar AS. Foto: MI/Usman Iskandar.

Rupiah Ditutup Naik 0,37% ke Level Rp17.818/USD Rabu Ini

Husen Miftahudin • 23 September 2026 16:03

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami kenaikan.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 23 September 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.818 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 66 poin atau setara 0,37 persen dari posisi Rp17.884 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Pada perdagangan hari ini mata uang rupiah ditutup menguat 66 poin, sebelumnya sempat menguat 95 poin di level Rp17.818 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.884 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.795 per USD. Rupiah juga menguat sebanyak 83 poin atau setara 0,46 persen dari Rp17.878 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.803 per USD naik sebanyak 80 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.883 per USD.
 

 

Gangguan di Selat Hormuz mereda


Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang mengatakan para pejabat AS telah mengadakan pertemuan tiga jam yang "sangat baik" dan produktif dengan perwakilan Iran di New York, yang memunculkan harapan negosiasi pada akhirnya dapat membantu mengakhiri konflik dan meredakan gangguan di sekitar Selat Hormuz.

Pertemuan tersebut merupakan kontak langsung pertama antara pejabat AS dan Iran sejak Juni. Trump mengatakan utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, turut serta dalam pertemuan itu.

Laporan Reuters menunjukkan Iran telah mengisyaratkan kesediaan untuk membuka kembali Selat Hormuz jika Washington melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, meskipun Teheran belum memastikan adanya kesepakatan tegas untuk melakukan hal tersebut.

Sementara itu, laporan menyebutkan Arab Saudi telah memulai kembali operasi pada jalur pipa Timur-Barat miliknya, yang mampu mengalirkan minyak mentah ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz. Jalur pipa tersebut sempat ditutup setelah serangan pesawat nirawak (drone) awal bulan ini.

Di sisi lain, Presiden The Fed wilayah Richmond Thomas Barkin mengatakan tekanan inflasi akan membutuhkan waktu untuk mereda, seraya menambahkan kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan untuk mendorong harga menuju target inflasi dua persenyang ditetapkan The Fed. Selain itu, risiko terhadap inflasi saat ini lebih besar dibandingkan risiko terhadap pencapaian lapangan kerja.


(Ilustrasi. Foto: dok MI)
 

BI Rate masih di level 5,75%


Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50 persen.

Alasan utama BI Rate kembali dipertahankan ialah stabilitas kurs rupiah masih terus bisa dijaga sekaligus mendorong tren pertumbuhan ekonomi Indonesia sambil menekan inflasi.

BI selanjutnya menyatakan akan terus memperkuat kebijakan insentif guna menarik aliran masuk modal asing. Langkah tersebut juga diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Pada sisi lain, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran akan tetap diarahkan untuk memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Presiden Prabowo menyambut baik penyelesaian pembayaran kembali obligasi BLBI pemerintah senilai Rp218 triliun kepada Bank Indonesia pada 24 Agustus 2026, yang menuntaskan kewajiban sejak masa krisis keuangan Asia pada 1997–1998. 

Kewajiban tersebut dibayarkan secara rutin melalui Anggaran Pendapatan Negara (APBN). Dalam membayar seluruh kewajiban, pemerintah menggunakan skema Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), dana tersebut bersumber dari sisa surplus BI yang dihasilkan dari kegiatan operasional.  

Penyelesaian utang ini dipandang sebagai tonggak sejarah penting bagi kebijakan makroekonomi Indonesia. Pemerintah melalui Menkeu Suahasil menekankan bahwa proses panjang ini harus menjadi pembelajaran luar biasa dalam mengelola keuangan negara di masa depan agar terhindar dari krisis serupa.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.810 per USD hingga Rp17.860 per USD," jelas Ibrahim.

(Husen Miftahudin)