Rupiah. Foto: dok MI.
Rabu Pagi, Rupiah Menguat 0,22% ke Rp16.774
Husen Miftahudin • 11 February 2026 09:41
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 11 Februari 2026, rupiah hingga pukul 09.33 WIB berada di level Rp16.774 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 37 poin atau setara 0,22 persen dari Rp16.811 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.794 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.810 per USD hingga Rp16.840 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Dolar AS Melemah Lagi |
Ketegangan AS-Iran berlanjut
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Departemen Transportasi AS, melalui Administrasi Maritim, yang menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap sejauh mungkin dari wilayah Iran saat melewati Selat Hormuz dan Teluk Oman.
"Badan tersebut menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap dekat dengan Oman selama penyeberangan, dengan alasan risiko diserbu oleh pasukan Iran," ungkap Ibrahim.
Peringatan tersebut menimbulkan kekhawatiran atas ketegangan antara AS dan Iran yang tetap tinggi, bahkan ketika kedua negara mencatat kemajuan selama pembicaraan akhir pekan baru-baru ini dan berjanji untuk terlibat dalam lebih banyak diskusi tentang program nuklir Teheran.
Namun Iran juga sebagian besar menolak seruan untuk menghentikan pengayaan nuklirnya, sebuah poin utama perselisihan bagi Washington.
Di sisi lain, fokus investor minggu ini ada pada data ekonomi dari konsumen minyak terbesar di dunia, dengan data tersebut diharapkan akan memengaruhi prospek permintaan. Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan dirilis pada Rabu, sementara data inflasi indeks harga konsumen akan dirilis pada Jumat.
"Data-data tersebut juga diperkirakan akan memengaruhi prospek suku bunga AS, terutama di tengah perubahan kepemimpinan yang akan segera terjadi di Federal Reserve," papar Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Masyarakat puas terhadap Prabowo
Di sisi lain, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tercatat nyaris 80 persen. Survei terbaru Indikator Politik Indonesia mendapati sebanyak 79,9 persen responden puas dengan kinerja 17 bulan Prabowo memimpin. Dan sangat tinggi untuk ukuran approval rating seorang presiden.
Jumlah itu bahkan memecahkan rekor tingkat keterpilihan atas presiden-presiden sebelumnya. Saat SBY menang di periode kedua pada 2009, kisarannya tak sampai 70 juta pemilih. Pun demikian saat Jokowi memenangi pilpres keduanya pada 2019, perolehan suaranya masih lebih kecil dari Prabowo.
"Modal kedua, adalah faktor dari kapasitas Prabowo sendiri sebagai seorang pemimpin, ditambah dengan dukungan langsung dari Jokowi. Meski approval rating Prabowo sempat turun pada Agustus karena demonstrasi, namun secara cepat kembali pulih," urai Ibrahim.
Yang membuat masyarakat puas dengan kinerja Prabowo, dalam Survei Indikator mencatat kepuasan itu tecermin dari keseriusan Prabowo memberantas korupsi. Sebanyak 17,5 persen responden menjawab puas dengan keseriusan pemerintah memberantas korupsi.
Selanjutnya, kepuasan terhadap Prabowo ini ditopang oleh aksi Prabowo yang sering memberi bantuan (15,6 persen), program kerjanya yang bagus (11 persen), kinerjanya sudah terbukti (10,5 persen), dan sikap tegas, berwibawa, berani dari sosok Prabowo (9,7 persen), serta kepuasan masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (8,4 persen).