Rupiah. Foto: MI/Susanto.
Rupiah Ditutup Turun 0,28% ke Level Rp16.884
Husen Miftahudin • 18 February 2026 16:52
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 18 Februari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.884 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 47 poin atau setara 0,28 persen dari posisi Rp16.837 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 47 poin, sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp16.884 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp16.837 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Di perdagangan hari ini, rentang pergerakan rupiah berada pada level Rp16.850 per USD hingga Rp16.903 per USD. Sementara year to date (ytd) return tercatat 1,22 persen.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.880 per USD. Rupiah melemah 41 poin atau setara 0,24 persen dari Rp16.839 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.884 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 40 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.844 per USD.
| Baca juga: Rupiah Dibuka di Rp16.870/USD Rabu Pagi |
Ketegangan geopolitik AS-Iran kian memanas
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen analis yang tetap skeptis tentang potensi kemajuan lebih lanjut, walaupun Iran dan AS mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip panduan utama dalam pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan nuklir mereka yang telah berlangsung lama.
"Pembicaraan ini dipantau ketat oleh pasar energi karena Iran adalah produsen minyak utama dan terletak di sepanjang Selat Hormuz yang sangat penting secara strategis, jalur air sempit yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya," papar Ibrahim.
Sementara itu, risiko militer tetap tinggi setelah laporan Garda Revolusi Iran melancarkan latihan di Selat Hormuz, karena pasukan AS tetap ditempatkan secara besar-besaran di seluruh Timur Tengah.
Selain itu, para negosiator dari Ukraina dan Rusia menyelesaikan hari pertama pembicaraan perdamaian yang dimediasi AS di Jenewa, dan Presiden AS Donald Trump mendesak Kyiv untuk bergerak cepat menuju kesepakatan untuk mengakhiri konflik empat tahun tersebut.
Menurut Ibrahim, investor berhati-hati menjelang rilis risalah dari pertemuan kebijakan Federal Reserve Januari, yang dapat memberikan wawasan baru tentang waktu dan skala potensi pelonggaran moneter.
Investor juga menunggu laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk Desember, yang akan dirilis pada Jumat, indikator inflasi pilihan Fed yang dapat membentuk ekspektasi suku bunga.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Defisit APBN jadi sorotan
Ibrahim bilang, kondisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tengah mendapatkan sorotan dari publik. Bila pemerintah tidak cermat dalam melakukan pengelolaan keuangan negara, maka ketergantungan terhadap defisit berpotensi menunda reformasi struktural.
"Strategi defisit tidak otomatis mampu membalikkan kondisi ekonomi dalam satu tahun. Pertumbuhan yang berkelanjutan tetap ditentukan oleh investasi riil, kepastian regulasi, dan produktivitas tenaga kerja," urai dia.
Ketika sektor swasta masih berhati-hati, pemerintah akhirnya menjadi penopang utama permintaan agregat. Di sinilah risiko muncul yaitu APBN berperan sebagai shock absorber terus-menerus, sementara basis penerimaan belum tumbuh sebanding dengan kebutuhan belanja dan biaya bunga.
Pada akhir 2025 defisit melebar menjadi Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini jauh lebih besar dari target awal defisit yang senilai Rp 616,2 triliun atau 2,53 persen dari PDB. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur defisit APBN dibatasi paling tinggi tiga persen dari PDB.
Meski masih berada di bawah ambang batas tiga persen, tetap secara ekonomi ruang fiskal sudah menipis. Bila dikaji lebih dalam, persoalannya bukan sekadar angka rasio, melainkan kemampuan APBN menyerap guncangan dan melakukan stabilisasi.
"Saat penerimaan negara belum kuat sementara keseimbangan primer masih defisit, maka setiap terjadi guncangan eksternal kenaikan imbal hasil (yield) global, pelemahan rupiah, dan arus modal keluar akan langsung menekan kas negara melalui beban bunga dan kebutuhan pembiayaan baru. Artinya, secara headline (defisit) terlihat aman, tetapi daya tahan fiskal terhadap volatilitas global sudah tidak selega beberapa tahun lalu," papar Ibrahim.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.880 per USD hingga Rp16.920 per USD," jelas Ibrahim.