Ekspektasi Bunga Fed Turun, Rupiah Menguat ke Rp17.882/USD

Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com.

Ekspektasi Bunga Fed Turun, Rupiah Menguat ke Rp17.882/USD

Ade Hapsari Lestarini • 2 October 2026 17:11

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat bergerak menguat 84 poin atau 0,47 persen menjadi Rp17.882 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.966 per USD.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.898 per USD dari sebelumnya Rp17.937 per USD.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

"Data inflasi yang lebih rendah telah menurunkan ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lagi bulan ini. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan pada bulan Oktober hanya sekitar 26 persen, turun tajam dari 69 persen pada pekan sebelumnya," ujar dia dalam keterangan tertulis dilansir Antara, Jumat, 2 Oktober 2026.

Mengutip Xinhua, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) utama AS naik 3,4 persen secara tahunan (year-on-year) pada Agustus. Angka ini berada di bawah perkiraan konsensus sebesar 3,7 persen.


Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
 

 

Indeks harga PCE inti AS


Indeks harga PCE inti AS, yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang fluktuatif, naik tiga persen. Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 3,3 persen dan mencerminkan penurunan dari posisi 3,3 persen pada Juli.

Secara bulanan, PCE inti naik 0,2 persen, turun tipis 0,1 poin persentase dari bulan sebelumnya dan berada di bawah proyeksi kenaikan sebesar 0,3 persen.

Di samping itu, konflik AS dengan Iran masih memanas seiring ancaman Presiden AS Donald Trump berencana untuk melancarkan serangan bom terhadap Iran pada bulan November pascapemilihan umum paruh waktu AS di tersebut.

"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Ibrahim.

(Ade Hapsari Lestarini)