Rupiah Jumat Pagi Naik 0,14% ke Level Rp17.941/USD

Rupiah dan dolar AS. Foto: MI/Usman Iskandar.

Rupiah Jumat Pagi Naik 0,14% ke Level Rp17.941/USD

Husen Miftahudin • 2 October 2026 09:33

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penguatan.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 2 Oktober 2026, rupiah hingga pukul 09.24 WIB berada di level Rp17.941 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 25 poin atau setara 0,14 persen dari Rp17.966 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.932 per USD. Rupiah menguat tipis delapan poin atau setara 0,04 persen dari Rp17.940 per USD.

Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.960 per USD hingga Rp18.030 per USD," papar Ibrahim dalam analisis hariannya.
 

 

Pemulihan gencatan senjata AS-Iran


Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen Iran yang menyatakan telah menerima tanggapan AS atas usulan terbarunya untuk memulihkan gencatan senjata, setelah Presiden AS Donald Trump menolak rencana sebelumnya yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Trump membantah laporan Axios dan CNN yang mengutip pernyataan pejabat AS bahwa ia bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah-langkah konkret dari Teheran terkait program nuklirnya.

Selain itu, Trump pada Rabu menyatakan ia masih membahas kemungkinan pelarangan ekspor solar AS, meskipun sebelumnya Gedung Putih telah membantah laporan mengenai rencana penerapan larangan menyeluruh selama 90 hari. Isu ini menjadi semakin mendesak mengingat harga solar AS sempat mencapai rekor tertinggi sebesar USD6,53 per galon pada pekan lalu, sementara cadangan solar AS masih berada pada tingkat terendah dalam sejarah.

Di sisi lain, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang tidak mencakup komponen makanan dan energi serta menjadi tolok ukur inflasi inti pilihan Federal Reserve naik 0,2 persen pada Agustus, angka yang berada di bawah perkiraan, sehingga memberikan sedikit kelegaan bagi pasar terkait prospek inflasi.

Data tersebut mendorong para pelaku pasar untuk memangkas secara tajam ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober. Probabilitas tersirat turun menjadi sekitar 34 persen, dari sebelumnya hampir 70 persen pada awal pekan.

Pada saat yang sama, belanja konsumen AS pada Agustus mencatat kenaikan tercepat dalam lebih dari satu tahun, yang memperkuat keyakinan bahwa perekonomian mampu bertahan menghadapi suku bunga yang lebih tinggi.

Ketahanan tersebut turut menjaga imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang tetap berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Kini, pasar akan mencermati laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.


(Ilustrasi: Foto: Magnific)
 

Manufaktur Indonesia kembali ekspansi 


Sementara itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global, menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 di September 2026 atau mengalami ekspansi.

PMI berbalik arah dari sebelumnya fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026. Indeks PMI di September yang mencapai 52,4 adalah yang tertinggi sejak Februari 2026 atau tujuh bulan.

Secara bersamaan, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami suplus USD3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai USD26,61 miliar melampaui nilai impor USD23,06 miliar per Agustus 2026. Adapun, BPS mencatat nilai ekspor RI mencapai USD26,61 miliar atau naik 6,72 persen secara tahunan pada Agustus 2026. 

Sedangkan, impor Indonesia tercatat sebesar USD23,06 miliar, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Demikian pula dengan impor nonmigas naik 17,20 persen menjadi USD19,53 miliar. Menurut data BPS, ekspor Indonesia meningkat terutama didorong oleh sejumlah komoditas a.l. nikel yang naik 51,67 persen secara tahunan dan alumunium yang meroket hingga 206,78 persen secara tahunan pada Agustus 2026.

Kemudian, Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali meningkat pada September 2026. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan sejumlah bahan pangan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. IHK tercatat mengalami inflasi sebesar 0,30 persen secara bulanan (mtm) pada September 2026. Adapun, secara year on year, inflasi sebesar 3,28 persen.

(Husen Miftahudin)