Kebijakan Tarif dan Konflik Timur Tengah Kerek Biaya Hidup di Amerika

Ilustrasi, daya beli masyarakat turun imbas tarif impor dan konflik Timteng. Foto: Xinhua/Guo Cheng.

Kebijakan Tarif dan Konflik Timur Tengah Kerek Biaya Hidup di Amerika

Richard Alkhalik • 28 April 2026 15:15

Los Angeles: Tekanan ekonomi kembali melanda Amerika Serikat (AS). Kebijakan tarif impor baru yang berpadu dengan lonjakan harga energi global imbas eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan inflasi domestik yang berdampak pada kelas pekerja.

Melansir Xinhua, Selasa, 28 April 2026, para ekonom dari Peterson Institute for International Economics memperingatkan penerapan kebijakan tarif impor ini memiliki efek substitusi layaknya lonjakan beban pajak bagi masyarakat.

Tekanan finansial tersebut diyakini akan semakin membengkak mengakumulasi efek ganda (multiplier effect), seperti potensi kenaikan harga dari produsen domestik yang memanfaatkan momentum minimnya persaingan barang impor.

Para ekonom memproyeksikan arah pemulihan ekonomi ke depan akan sangat ditentukan oleh durasi disrupsi di pasar energi global, serta dinamika regulasi tarif apakah akan berlanjut pada fase eskalasi atau mulai memasuki tahap relaksasi.

Rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 12 Mei mendatang akan menjadi indikator untuk mengukur secara pasti, apakah tekanan inflasi sepanjang April telah meluas ke sektor-sektor esensial di luar komoditas energi.
 

Baca juga: Mengenal Kevin Warsh, Calon Kuat Bos Baru The Fed
 

Sikap Fed dan tarif impor


Laporan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengonfirmasi eskalasi tekanan harga tersebut. Data mencatat indeks harga energi pada bulan Maret melonjak tajam hingga 10,9 persen dari bulan sebelumnya, diikuti meroketnya harga bensin sebesar 21,2 persen.

Situasi ini menjadi alarm krusial mengingat pengeluaran konsumen merupakan motor penggerak bagi sekitar dua pertiga total perekonomian AS. Merespons tren inflasi yang kian meluas, Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas harga yang pada gilirannya turut mengerek biaya pinjaman dari kartu kredit hingga kredit kendaraan bermotor.

Selain faktor geopolitik, kebijakan proteksionisme melalui pengenaan tarif impor menjadi salah satu kontributor utama lonjakan harga. Analisis The Fed memperkirakan bahwa rentetan tarif yang diberlakukan hingga November 2025 telah mendorong kenaikan harga barang inti, indikator inflasi pilihan The Fed sebesar 3,1 persen hingga Februari 2026.

Tergerusnya daya beli konsumen tergambar jelas dari keluhan Allen Wang seorang warga di Azusa, California. Saat ditemui di pusat perbelanjaan grosir Costco, ia menuturkan nominal USD200 yang sebelumnya mampu memenuhi kapasitas keranjang belanjanya, kini dengan nominal tersebut tidak cukup akibat kenaikan harga.

Menekankan betapa masifnya gelombang kenaikan harga tersebut, Wang mengungkapkan produk harian sekelas pasir kucing pun harganya telah meroket hingga USD3 hanya dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.

Sejalan dengan kajian para ekonom edisi Februari 2025, pengenaan tarif atas komoditas asal Kanada, Meksiko, dan Tiongkok diestimasi akan menggerus daya beli rumah tangga di Amerika Serikat rata-rata hingga lebih dari USD1.200 per tahun. Beban tersebut belum memperhitungkan efek domino dari tingginya ongkos logistik dan produksi akibat terganggunya pasar energi di tengah konflik dengan Iran.


(Ilustrasi. Foto: Freepik)
 

Dampak bagi kelas pekerja


Realitas pahit dari lonjakan biaya hidup tersebut turut dialami oleh Katie Peyrey seorang nenek berusia 66 tahun warga Burbank, California, yang menggantungkan nasib dari upah minimum sebagai pekerja kebersihan fasilitas rehabilitasi yang dituntut untuk berjuang ekstra keras agar mampu bertahan hidup sekaligus membiayai cucunya yang mengidap autisme.

"Saya memilih (Donald) Trump karena dia berjanji akan memperbaiki keadaan bagi kami,” kata Peyrey.

Ia menuturkan sebelum pergantian administrasi kepresidenan, beban operasional rumah tangganya yang mencakup ongkos sewa, tagihan listrik, bahan pokok, transportasi, pajak, hingga perawatan medis sang cucu telah menembus kisaran USD2.300 per bulan.

Angka tersebut memosisikan kondisi finansialnya di ambang batas rentan, mengingat total pendapatannya stagnan di angka USD2.400 per bulan. "Pengeluaran saya melonjak hingga lebih dari USD2.500 per bulan dan saya tidak mampu mencukupi kebutuhan lagi," ungkap Peyrey.

Untuk menutupi kekurangan tersebut, Peyrey terpaksa mengandalkan pinjaman dari kerabat terdekat, yang ironisnya juga tengah terhimpit krisis serupa.

Kekhawatiran senada turut disuarakan oleh Christian Devito seorang petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja berusia 34 tahun di sebuah jaringan ritel raksasa di Los Angeles (LA). Ia mengungkapkan bahwa beban pengeluaran bulanannya telah melonjak hingga 15 persen hanya dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.

"LA itu sangat luas, jadi biaya perjalanan ke tempat kerja melonjak dari USD50 seminggu menjadi lebih dari USD70. Dan tagihan makanan dan listrik saya juga meroket. Itu benar-benar membuat saya kesulitan," kata Christian.

Di satu sisi, Christian mengaku sangat menikmati perannya di sektor Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Namun di sisi lain, ia khawatir akibat ancaman inflasi berkepanjangan yang secara langsung dikatalisasi oleh memanasnya konflik di Timur Tengah dan rentetan kebijakan tarif baru.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)