Rupiah. Foto: MI/Susanto.
Penutupan Akhir Pekan, Rupiah Turun 0,17% ke Level Rp16.787
Husen Miftahudin • 27 February 2026 15:42
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 27 Februari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.787 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 28 poin atau setara 0,17 persen dari posisi Rp16.759 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 28 poin, sebelumnya sempat melemah 35 poin di level Rp16.787 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp16.759 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.765per USD. Rupiah melemah 12 poin atau setara 0,07 persen dari Rp16.753 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.779 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 21 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.758 per USD.
| Baca juga: Jumat Pagi, Rupiah Turun 0,14% ke Rp16.783 |
Ketegangan geopolitik jadi faktor utama rupiah terkapar
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap ketegangan geopolitik terkait Iran yang menjadi pendorong utama minggu ini, karena Washington mengerahkan lebih banyak kapal ke Timur Tengah dan mengancam tindakan militer jika Teheran tidak menerima kesepakatan nuklir.
Pembicaraan AS-Iran mengenai ambisi nuklir Teheran berakhir pada Kamis tanpa kesepakatan yang jelas. Namun, kedua pihak mengisyaratkan mereka akan segera melanjutkan negosiasi, dengan diskusi tingkat teknis juga akan berlangsung minggu depan di Wina, kata mediator Oman.
Ketidakpastian yang meningkat atas perekonomian AS juga menjadi faktor setelah geopolitik, terutama setelah putusan Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump.
Namun, Trump menanggapi dengan mengumumkan tarif baru di bawah kerangka hukum yang berbeda, dan mengancam akan memberlakukan lebih banyak bea masuk, membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan ekonomi lebih lanjut akibat bea masuk tersebut.
"Selain itu, pasar sedang menilai kembali jalur kebijakan moneter Fed karena para pembuat kebijakan tetap khawatir tentang inflasi yang tinggi. Pasar secara luas memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan di bulan Maret dan April," jelas dia.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pengenaan bea masuk sel dan panel surya
Di sisi lain, sambung Ibrahim, Departemen Perdagangan AS, DOC, resmi mengumumkan pengenaan bea masuk imbalan atas sel dan panel surya yang diimpor oleh perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, dan Laos. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk melawan subsidi yang mendukung industri di ketiga negara Asia tersebut.
Secara rinci, AS menetapkan tarif subsidi umum sebesar 125,87 persen untuk impor dari India, 104,38 persen untuk impor dari Indonesia, dan 80,67 persen untuk impor dari Laos. Berdasarkan data perdagangan pemerintah, ketiga negara tersebut menyumbang nilai impor senilai USD4,5 miliar (Rp75,73 triliun) tahun lalu. Ini sekitar dua pertiga dari total impor sepanjang 2025.
Keputusan ini merupakan rangkaian terbaru dari pengenaan bea masuk selama satu dekade terhadap impor produk surya murah dari Asia, yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan-perusahaan asal Tiongkok. Berdasarkan lembar fakta yang diunggah di situs resmi DOC, lembaga tersebut menghitung tarif subsidi umum bagi para importir.
Melalui keputusan tersebut, pejabat perdagangan AS mengatakan mendukung pemilik pabrik tenaga surya domestik setelah menemukan bahwa perusahaan yang beroperasi di tiga negara itu menerima subsidi pemerintah. Hal ini membuat produk AS menjadi tidak kompetitif di pasar sendiri.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Senin depan akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.790 per USD hingga Rp16.820 per USD. Sedangkan range untuk satu minggu kedepan Rp16.750 per USD sampai Rp16.900 per USD," jelas Ibrahim.