The Fed Diperkirakan akan Naikkan Suku Bunga Pekan Depan

Gedung The Fed. Foto: Xinhua/Liu Jie.

The Fed Diperkirakan akan Naikkan Suku Bunga Pekan Depan

Eko Nordiansyah • 13 September 2026 10:25

Washinton: Angka inflasi inti yang lebih tinggi dari perkiraan pada Jumat, 11 September 2026, mendorong probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve pekan depan menjadi 85 persen. Proyeksi ini naik tajam dari sekitar 70 persen sebelum laporan tersebut dirilis.

"Dengan CPI inti yang bergerak lebih tinggi dari konsensus secara bulanan, serta meningkat kecepatannya dibandingkan bulan Juli, kami kini berpendapat bahwa hal ini akan mendorong sebagian besar anggota FOMC untuk mendukung kenaikan suku bunga dalam pertemuan FOMC mendatang pekan depan," ujar ekonom CIBC Economics, Helen Lao, dalam sebuah catatan singkat dikutip dari Investing, Minggu, 13 September 2026.

Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics) melaporkan bahwa CPI inti naik 0,3 persen pada bulan Agustus, melampaui perkiraan konsensus sebesar 0,2 persen. CPI umum (headline CPI) naik 0,4 persen pada bulan tersebut, sesuai dengan ekspektasi, seiring harga bensin yang kembali naik setelah sempat turun selama dua bulan berturut-turut. 

Secara tahunan (year-on-year), inflasi umum tetap stabil di angka 3,4 persen, sementara CPI inti sedikit melandai menjadi 2,4 persen dari 2,5 persen pada bulan Juli.

Data ini muncul lima hari sebelum Federal Open Market Committee (FOMC) menggelar pertemuan pada 15-16 September—sebuah sesi yang kini secara luas diperkirakan pasar akan menghasilkan kenaikan suku bunga pertama sejak Juli 2023.



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Tekanan kenaikan suku bunga The Fed

Surat utang (note) tenor 10 tahun yang dilelang pada 9 September terjual dengan imbal hasil (yield) 4,834 persen, naik dari 4,683 persen pada lelang sebelumnya. Lelang obligasi tenor 30 tahun pada 10 September menghasilkan imbal hasil 5,308 persen, dibandingkan 5,216 persen sebelumnya, seiring tekanan jual pada surat utang pemerintah jangka panjang di tengah meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga.

Investor di sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga menghadapi tekanan margin langsung jika The Fed merealisasikan kenaikan seperempat poin yang kini telah diantisipasi oleh pasar.

Data hari Jumat tersebut tidak muncul secara terisolasi. Indeks harga produsen hari Kamis menunjukkan harga grosir AS naik 0,4 persen pada bulan Agustus dan 5,4 persen secara tahunan (year-on-year).

Pergerakan harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas USD100 per barel, telah menjaga harga bensin tetap tinggi dan mempersulit upaya The Fed untuk menyatakan bahwa inflasi telah terkendali.

ECB menambahkan dimensi baru pada gambaran suku bunga global pada 10 September dengan menaikkan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility rate) menjadi 2,50 persen dari 2,25 persen dan suku bunga pembiayaan kembali utama (main refinancing rate) menjadi 2,65 persen dari 2,40 persen, seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat harga energi di berbagai negara ekonomi utama.

The Fed telah mempertahankan suku bunga kebijakannya di kisaran 3,50 sampai dengan 3,75 persen sejak Desember 2025, sebuah jeda yang menurut banyak analis akan berlanjut hingga tahun 2027. 

Perhitungan tersebut berubah secara signifikan setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menyampaikan pidato bernada hawkish di Jackson Hole pada akhir Agustus, yang memicu lonjakan imbal hasil obligasi Treasury tenor dua tahun. Kini, semua mata tertuju pada hari Rabu, saat FOMC mengumumkan keputusan suku bunganya serta proyeksi ekonomi terbaru.

(Eko Nordiansyah)