Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.
Rupiah Rabu Sore Ditutup Naik Tipis 10 Poin ke Level Rp18.073/USD
Husen Miftahudin • 29 July 2026 15:56
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penguatan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 29 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp18.073 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik tipis 10 poin atau setara 0,06 persen dari posisi Rp18.083 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup menguat tipis 10 poin, sebelumnya sempat menguat 25 poin di level Rp18.073 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp18.083 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp18.055 per USD. Rupiah menguat 28 poin atau setara 0,15 persen dari Rp18.083 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp18.087 per USD naik satu poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp18.088 per USD.
Pasar pelototi perkembangan situasi di Timur Tengah
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen para pelaku pasar yang terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik yang menyasar pasukan AS di kawasan tersebut.
Meskipun Komando Pusat AS menyatakan seluruh rudal berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif tenang, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa jeda diplomatik yang sempat terjadi bisa segera buyar.
Ketegangan kembali meningkat setelah pasar sempat semakin optimistis bahwa upaya diplomasi akan menunjukkan kemajuan, menyusul pertemuan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump di Washington.
Trump kemudian menyatakan adanya peluang besar bagi kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran, meskipun pihak Teheran membantah adanya niat untuk melakukan negosiasi ataupun gencatan senjata.
Di sisi lain upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz juga mengalami kebuntuan setelah Iran menolak usulan Oman mengenai pembentukan kerangka kerja bersama untuk pengaturan lalu lintas pelayaran di jalur perairan strategis tersebut.
Sementara, ancaman terhadap infrastruktur energi kawasan tetap ada menyusul laporan Arab Saudi mengenai keberhasilan mereka mencegat pesawat nirawak (drone) dan rudal yang menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur negara itu.
Menurut Ibrahim, pelaku pasar mungkin enggan untuk memasang taruhan agresif menjelang dirilisnya hasil pertemuan kebijakan FOMC yang krusial, yang akan dirilis Kamis dini hari WIB, yang akan memberikan petunjuk tentang jalur kebijakan Federal Reserve AS (Fed) di masa mendatang.
Menjelang peristiwa penting terkait kebijakan bank sentral, para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga Fed di tengah harapan baru akan diplomasi AS-Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan, yang menyebabkan penurunan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
BI komitmen jaga stabilitas
Di sisi lain, pascapengunduran Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia, BI terus berkomitmen menjaga stabilitas yang menjadi prasyarat utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat, sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi.
Selain itu, optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ditingkatkan, tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam. Berbagai instrumen terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing.
Instrumen yang dioptimalkan termasuk triple intervention di pasar valas (spot, non-deliverable forward/NDF, dan domestic non-deliverable forward/DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.070 per USD hingga Rp18.130 per USD," jelas Ibrahim.