Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
Rupiah Senin Pagi Turun Tipis ke Rp16.989
Husen Miftahudin • 30 March 2026 10:14
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini turun tipis.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 30 Maret 2026, rupiah hingga pukul 10.03 WIB berada di level Rp16.989 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun tipis sembilan poin atau setara 0,05 persen dari Rp16.980 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.952 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
"Untuk perdagangan Senin, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.980 per USD hingga Rp17.030 per USD. Range rupiah dalam satu minggu Rp16.880 per USD sampai Rp17.100 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Rupiah Jumat Sore Diperdagangkan ke Level Rp16.979/USD |
AS pertimbangkan rebut Pulau Kharg
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran berjalan dengan baik dan ia akan menghentikan serangan terhadap pembangkit energi negara itu selama 10 hari.
Meskipun Trump mengumumkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan Trump mempertimbangkan apakah akan menggunakan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
Perang tersebut telah mengurangi pasokan minyak global sebesar 11 juta barel per hari, dengan Badan Energi Internasional menggambarkan krisis tersebut lebih buruk daripada dua guncangan minyak tahun 1970-an dan perang gas Rusia-Ukraina jika digabungkan.
Selain itu, pasar memperkirakan skenario inflasi tinggi. Pada awal tahun, para pedagang memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga dari Federal Reserve (Fed). Namun, sejak konflik dimulai dan setelah keputusan kebijakan Fed pada 18 Maret, mereka mengurangi taruhan dovish mereka.
"Sebaliknya, mereka memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS, menurut Prime Market Terminal. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani emas dengan mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak menghasilkan," papar Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Lebaran dorong pertumbuhan ekonomi
Di sisi lain, momentum Hari Raya Lebaran 2026 menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tiga bulan pertama atau kuartal I-2026. Peningkatan konsumsi rumah tangga hingga arus mudik diyakini pemerintah bisa mendorong ekonomi Indonesia tumbuh hingga 5,5 persen atau lebih.
Namun, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 ini tak setinggi target pemerintah, yakni hanya 5,4 persen atau sedikit di bawah target. Perkiraan ini didasarkan pada pelaksanaan Hari Raya Lebaran tahun tak seramai tahun-tahun sebelumnya. Hal ini membuat dorongan pelaksanaan Hari Raya terhadap pertumbuhan ekonomi jadi lebih terbatas.
Dari sisi pendorong, ekonomi nasional bisa tumbuh hingga 5,4 persen berkat belanja pemerintah yang dinilai cukup ekspansif, terutama pada program-program prioritas pemerintah dan bantuan sosial yang dinilai cukup untuk menjaga daya beli masyarakat.
Sedangkan dari sisi hambatan, dampak dari bencana Sumatera pada akhir 2025 lalu masih terasa pada kuartal II-2026 ini. Sebab awal tahun ini gerak ekonomi di wilayah terdampak masih dalam tahap revitalisasi alias perbaikan, sehingga geliat ekonomi di wilayah itu belum berjalan dengan normal dan sedikit banyak mempengaruhi rata-rata nasional.
"Kemudian, inflasi yang cukup tinggi ikut membuat konsumsi masyarakat sedikit tertahan selama puasa dan Hari Raya Lebaran berlangsung. Membuat dorongan ekonomi dari peristiwa ini tak maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya," papar Ibrahim.