Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.
Kamis Sore, Rupiah Ditutup ke Level Rp18.111/USD
Husen Miftahudin • 30 July 2026 16:17
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 30 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp18.111 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 38 poin atau setara 0,21 persen dari posisi Rp18.073 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 38 poin, sebelumnya sempat menguat 15 poin di level Rp18.111 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp18.073 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp18.080 per USD. Rupiah melemah 35 poin atau setara 0,19 persen dari Rp18.045 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah justru berada di level Rp18.078 per USD naik tipis sembilan poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp18.087 per USD.
Baca Juga :
Rupiah Hari Ini Dibuka ke Rp18.075/USD
Tertekan ketegangan geopolitik dan sikap The Fed
Ibrahim menjelaskan pergerakan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan yang lebih besar terhadap Iran menyusul serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Yordania.
Di saat yang sama, Amerika Serikat bersama Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok paramiliter yang didukung Iran di Irak. Washington juga kembali melakukan operasi militer terhadap Iran setelah sempat menghentikan serangan sejak akhir pekan.
Situasi tersebut semakin memanas setelah Iran menutup jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman juga memberlakukan blokade laut di Laut Merah yang mengganggu aktivitas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb.
Selain sentimen geopolitik, pasar turut mencermati hasil rapat Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50-3,75 persen. Meski demikian, keputusan tersebut diwarnai perbedaan pandangan di kalangan anggota Federal Open Market Committee (FOMC), dengan tiga anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan kondisi pasar yang lebih ketat telah membantu proses pengendalian inflasi. Namun, ia menegaskan bank sentral siap mengambil langkah lebih lanjut apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Perlambatan ekonomi domestik jadi perhatian
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati prospek perlambatan ekonomi Indonesia. Sejumlah ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 berada di kisaran 4,8-4,9 persen, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen.
Perlambatan tersebut diperkirakan dipicu meningkatnya biaya produksi akibat gejolak global, kebijakan moneter yang lebih ketat, serta ketidakpastian pengelolaan fiskal di dalam negeri. Untuk sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada pada kisaran 4,9-5,1 persen atau di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.
Selain itu, investor masih menunggu kepastian mengenai suksesi kepemimpinan Bank Indonesia setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Pasar juga mencermati tekanan fiskal daerah, hambatan ekspor mineral, serta sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan depan, antara lain inflasi Juli, neraca perdagangan, cadangan devisa, produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026, dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).