Dolar AS Melemah, Rupiah Tertekan Usulan Perubahan Status MSCI

Dolar AS. Foto: dok MI.

Dolar AS Melemah, Rupiah Tertekan Usulan Perubahan Status MSCI

Husen Miftahudin • 17 October 2026 08:04

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) mengakhiri tren penguatan selama empat pekan berturut-turut pada perdagangan Jumat waktu setempat. Pelemahan dolar dipengaruhi penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh yang meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 17 Oktober 2026, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia turun 0,21 persen menjadi 101,837.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1233 dari USD1,1212 pada sesi sebelumnya. Pound sterling juga naik menjadi USD1,3319 dari USD1,3272.

Sebaliknya, dolar AS melemah terhadap yen Jepang menjadi 158,05 yen dari 158,14 yen pada sesi sebelumnya. Dolar juga turun terhadap franc Swiss menjadi 0,8242 franc dari 0,8271 franc.

Terhadap dolar Kanada, greenback terkoreksi menjadi 1,4153 dolar Kanada dari 1,419 dolar Kanada. Sementara itu, dolar AS melemah terhadap krona Swedia menjadi 9,9192 krona dari 9,9597 krona.
 

 

Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed mereda


Mengutip Investing.com, pelaku pasar valuta asing mencermati arah kebijakan moneter The Fed setelah sejumlah data inflasi AS melampaui perkiraan.

Indeks harga konsumen (CPI) utama dan inti AS pada September masing-masing mencatat kenaikan tahunan sebesar 3,7 persen dan 2,6 persen. Kenaikan inflasi utama turut dipengaruhi lonjakan indeks harga energi sebesar 20,4 persen secara tahunan.

Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) utama AS meningkat 6,3 persen secara tahunan pada September. Angka tersebut menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak Desember 2022.

The Fed menargetkan inflasi jangka panjang sebesar 2 persen. Dalam mengukur tekanan harga, bank sentral AS tersebut lebih mengandalkan indeks pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE).

Data inflasi yang tinggi sempat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan The Fed pada akhir Oktober.

Namun, ekspektasi tersebut kembali menurun setelah Warsh berbicara dalam forum pada rangkaian pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Grup Bank Dunia di Bangkok, Thailand.

Warsh menyebut inflasi yang persisten masih menjadi tantangan bagi pembuat kebijakan di berbagai negara. Meski demikian, ia menilai perekonomian global menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Ia juga menyatakan The Fed telah mengurangi sebagian akomodasi kebijakan moneter pada pertemuan September, tetapi tidak memberikan petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir Oktober turun menjadi sekitar 17 persen dari hampir 28 persen pada Kamis.

Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut turut menekan dolar AS. Secara umum, prospek suku bunga yang lebih rendah dapat mengurangi daya tarik dolar bagi investor.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Rupiah tertekan usulan perubahan status MSCI


Di Asia, rupiah Indonesia mengalami tekanan setelah penyedia indeks global MSCI mengumumkan konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market atau pasar negara berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri. Rupiah tercatat melemah hingga Rp18.064,9 per dolar AS.

Usulan MSCI tersebut berkaitan dengan kekhawatiran mengenai keterbukaan struktur kepemilikan saham, kemampuan investasi, serta tata kelola pasar modal Indonesia.

Pengumuman itu turut memicu tekanan besar di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan anjlok sekitar 11 persen pada perdagangan Jumat, mencatat penurunan harian terdalam sejak krisis keuangan Asia pada 1998.

Status Indonesia dalam indeks global menjadi perhatian investor karena sejumlah dana institusional dan produk investasi pasif menggunakan indeks tersebut sebagai acuan penempatan dana. Jika perubahan klasifikasi tersebut akhirnya diterapkan, komposisi indeks yang mengikuti klasifikasi MSCI berpotensi berubah dan memengaruhi aliran investasi ke pasar saham Indonesia.

Meski demikian, perubahan status Indonesia belum menjadi keputusan final. MSCI masih menjalankan proses konsultasi sebelum menetapkan keputusan akhir mengenai usulan reklasifikasi tersebut.

Sementara itu, rupee India melemah menjadi 95,237 per dolar AS pada Jumat. Meski demikian, mata uang tersebut mencatatkan kinerja mingguan terbaik sejak awal April. Penguatan secara mingguan didukung langkah intervensi Reserve Bank of India (RBI) untuk menekan transaksi spekulatif dan penimbunan dolar.

RBI membuka fasilitas pasokan dolar khusus bagi perusahaan pemasaran minyak milik negara serta memperketat pembatasan terhadap kontrak derivatif valuta asing non-dasar.

Langkah tersebut membantu menekan permintaan dolar di pasar spot dari kalangan korporasi. Namun, pelaku pasar mencatat persyaratan cadangan baru sempat mengganggu likuiditas pasar berjangka dan meningkatkan biaya lindung nilai bagi importir.

Pergerakan mata uang global pada pekan ini mencerminkan pengaruh data inflasi, ekspektasi kebijakan suku bunga AS, serta perkembangan sentimen investasi di pasar negara berkembang.

(Husen Miftahudin)