Jelang Akhir Pekan, Rupiah di Level Rp17.609/USD

Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.

Jelang Akhir Pekan, Rupiah di Level Rp17.609/USD

Husen Miftahudin • 11 September 2026 09:51

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 11 September 2026, rupiah hingga pukul 09.43 WIB berada di level Rp17.609 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun sebanyak 62 poin atau setara 0,35 persen dari Rp17.547 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.531 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah. 

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.540 per USD hingga Rp17.590 per USD," jelas Ibrahim.
 

 

AS-Iran saling serang


Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen AS dan Iran yang terlibat dalam serangkaian serangan terparah terhadap kapal-kapal sejak konflik bermula pada bulan Februari, di tengah kembali memanasnya pertempuran antara kedua pihak setelah sempat mereda sejenak pada Agustus.

Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada Rabu, sementara AS mengaku telah membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. 

Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyerang infrastruktur energi Arab Saudi pekan ini, yang semakin menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan. Serangan Houthi tersebut memperparah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan di kawasan Teluk akan meluas hingga ke luar wilayah Hormuz sebuah skenario yang berpotensi semakin memangkas pasokan global.

Presiden AS Donald Trump mengatakan perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan umum sela pada November. Namun, sebuah laporan dari Wall Street Journal mengungkapkan bahwa para penasihat utama Trump memperingatkan kemungkinan konflik akan terus berkecamuk hingga sisa masa jabatan Trump, mengingat minimnya tanda-tanda penurunan eskalasi.

Para pedagang saat ini bersiap menyambut rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS hari ini dan data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) pada hari Jumat besok.

"Laporan-laporan ini dapat memberikan petunjuk mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya minggu depan untuk meredam tekanan harga," ungkap Ibrahim.

Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bank sentral minggu depan.



(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Risiko fiskal bayangi stabilitas perekonomian


Di sisi lain, menurut Ibrahim, meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian. 

"Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor diantaranya, kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG)," jelas dia.

Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat. Dan apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, yang dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik.

"Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat," papar Ibrahim.

Pemerintah umumnya mengandalkan "bantal fiskal" (fiscal buffer) seperti kenaikan pendapatan dari ekspor komoditas lain (rejeki nomplok/windfall) untuk menjaga agar anggaran tetap aman. Namun, ketidakpastian pasar global membuat kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi prioritas.

Kendati demikian, tekanan penurunan tertahan oleh sentimen konsumen bulan Agustus yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan, didorong oleh kondisi keuangan rumah tangga yang lebih kuat dan prospek ekonomi yang lebih cerah.

"Walaupun peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat sehingga demi menopang belanja, masyarakat masih terjerat penomena makan tabungan," tutur Ibrahim.

(Husen Miftahudin)