Rupiah Turun 55 Poin di Senin Pagi Jadi Rp16.980

Rupiah. Foto: MI/Susanto.

Rupiah Turun 55 Poin di Senin Pagi Jadi Rp16.980

Husen Miftahudin • 9 March 2026 10:11

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami penurunan.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 9 Maret 2026, rupiah hingga pukul 10.00 WIB berada di level Rp16.980 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah sebanyak 55 poin atau setara 0,33 persen dari Rp16.925 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.914 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.920 per USD hingga Rp16.960 per USD. Pergerakan rupiah untuk minggu ini bergerak di level Rp16.850 per USD sampai Rp17.100 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Rupiah Dibuka Turun ke Rp16.916 per USD
 

Pasar keuangan global waspadai perang AS-Iran


Menurut Ibrahihm, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah tanpa tanda-tanda mereda yang jelas, membuat pasar keuangan global tetap waspada. Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan serangan balasan menyebar di seluruh wilayah dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia ingin berperan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah perang berakhir, pernyataan yang menggarisbawahi meningkatnya ketidakpastian tentang masa depan politik kawasan tersebut.

Kondisi ini juga membuat harga minyak melanjutkan kenaikan kuatnya karena konflik mengancam infrastruktur energi utama dan jalur pelayaran di Teluk. Lonjakan harga minyak mentah telah memicu kekhawatiran tentang gelombang inflasi global yang baru.

"Hal ini telah mempersulit prospek bagi bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS. Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat," jelas Ibrahim.

Menurut dia, investor kini mengalihkan perhatian mereka ke laporan data pekerjaan non-pertanian AS periode Februari yang akan dirilis Jumat nanti, yang dapat memberikan sinyal baru tentang kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter.

"Angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat pandangan Federal Reserve memiliki ruang untuk menunda pemotongan suku bunga," urai Ibrahim.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Upaya pemerintah kerek tax ratio


Di sisi lain, terang Ibrahim, pemerintah berupaya mengerek tax ratio alias rasio pajak usai menjadi salah satu pertimbangan lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Adapun, dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9 persen hingga 10 persen terhadap PDB. Bahkan, angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi pada tahun lalu dari 10,08 persen pada 2024 menjadi 9,31 persen pada 2025. 

Fitch sendiri memproyeksikan rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya akan mencapai rata-rata 13,3 persen terhadap PDB selama periode 2026-2027, jauh tertinggal dari median negara setara di kategori 'BBB' yang berada di level 25,5 persen. 

Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan salah satu upaya yang sedang didorong untuk mengerek penerimaan bersama Kementerian Keuangan adalah implementasi pembaruan sistem inti administrasi perpajakan alias Coretax.

Revisi prospek dari Fitch tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah. Pemerintah akan mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch.

"Selain itu, pemerintah menanggapi sorotan Fitch terhadap tingginya belanja sosial pemerintah, khususnya program MBG yang menelan porsi 1,3 persen terhadap PDB untuk periode 2025-2029, yang dinilai menjadi motor penggerak utama beban pengeluaran," ucap Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)