Menguat ke Level Rp16.636/USD, Rupiah Sudah Berani Ganyang Dolar AS Pagi Ini

Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.

Menguat ke Level Rp16.636/USD, Rupiah Sudah Berani Ganyang Dolar AS Pagi Ini

Husen Miftahudin • 27 November 2025 10:16

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami penguatan.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 27 November 2025, rupiah hingga pukul 10.05 WIB berada di level Rp16.636 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 28 poin atau setara 0,17 persen dari Rp16.664 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.668 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.660 per USD hingga Rp16.700 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Tak Kuasa Tahan Dolar AS, Rupiah Ditutup Melemah Tipis
 

Ekspektasi penurunan suku bunga meningkat


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan nilai tukar rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga, dan data AS yang tertunda yang dirilis pada Selasa menambah ekspektasi tersebut.

"Di tempat lain, pasar juga mencermati perkembangan seputar perundingan damai Rusia-Ukraina yang tersendat karena Rusia dan Ukraina yang masih saling melakukan serangan," jelas Ibrahim.

Sementara dari rilis data ekonomi yang tertunda, Indeks Harga Produsen (IHP) utama untuk September naik 0,3 persen MoM, setelah penurunan 0,1 persen pada Agustus. IHP Inti (tidak termasuk makanan dan energi) naik 0,2 persen MoM, di bawah perkiraan 0,3 persen. 

Penjualan Ritel hanya naik 0,2 persen MoM pada September, turun dari kenaikan 0,6 persen di Agustus, menunjukkan belanja konsumen yang lebih lemah. Sementara itu, Conference Board melaporkan sentimen rumah tangga memburuk pada November, dengan Keyakinan Konsumen turun 6,8 poin menjadi 88,7 dari 95,5 pada Oktober.

"Sinyal dovish The Fed dalam beberapa hari terakhir telah mendorong para pedagang untuk meningkatkan taruhan penurunan suku bunga, membalikkan perkiraan ulang yang sebelumnya hawkish yang muncul dari nada hati-hati para pejabat The Fed," papar dia.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Target pertumbuhan ekonomi 6%


Di sisi lain, Ibrahim mengatakan target pertumbuhan ekonomi enam persen yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merupakan hal yang realistis. "Namun pencapaiannya membutuhkan perubahan pendekatan analisa ekonomi, terutama dalam cara negara menggerakkan aktivitas ekonomi," tutur dia.

Pertumbuhan enam persen menurut Ibrahim bukan mimpi. Tetapi memerlukan perubahan cara pandang yang fundamental terhadap bagaimana kebijakan fiskal-moneter bekerja dan bagaimana ekonomi didorong. Langkah penempatan dana pemerintah di perbankan mulai terlihat hasilnya, namun masih jauh dari optimal.

Untuk membawa perekonomian Indonesia naik kelas, kebijakan yang sudah ada harus ada pendorong tambahan. Ada beberapa langkah kunci yang harus diambil. Salah satunya dilakukannya reformasi pasar tenaga kerja dan dukungan pada industri dalam negeri.

"Kemudian, langkah menertibkan impor barang-barang ilegal atau yang disebut thrifting, sudah tepat untuk melindungi industri dalam negeri. Pemberian insentif pajak bagi perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan baru," terang Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
Viral!, 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(Husen Miftahudin)