Rupiah dan dolar AS. Foto: MI/Usman Iskandar.
Rupiah Ditutup Turun ke Level Rp17.884/USD Hari Ini
Husen Miftahudin • 22 September 2026 15:42
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 22 September 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.884 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 37 poin atau setara 0,21 persen dari posisi Rp17.847 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan hari ini mata uang rupiah ditutup melemah 37 poin, sebelumnya sempat melemah 55 poin di level Rp17.884 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.847 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.865 per USD. Rupiah juga melemah 57 poin atau setara 0,32 persen dari Rp17.808 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.883 per USD turun sebanyak 70 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.813 per USD.
Baca Juga :
Rupiah Dibuka ke Rp17.874/USD
Menanti negosiasi konflik AS-Iran
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen kabar dimana Presiden AS Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang dijadwalkan hadir di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB.
Iran juga telah menyampaikan sejumlah syarat untuk kembali bernegosiasi melalui pihak penengah, sehingga memunculkan harapan bahwa diplomasi dapat membantu meredakan ketegangan konflik.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran terus melancarkan serangan terhadap target-target di Arab Saudi, sementara Arab Saudi menghadapi kendala pada sejumlah jalur ekspor. Inggris telah menyepakati pemberian dukungan militer terbatas kepada Arab Saudi di tengah serangan yang dihadapi Riyadh dari militan Houthi di Yaman.
Investor juga mencermati rencana pertemuan antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada akhir pekan ini, dengan agenda yang mencakup isu perdagangan dan geopolitik. Tiongkok merupakan importir minyak terbesar di dunia, sehingga prospek ekonomi dan hubungan perdagangannya menjadi faktor penting bagi permintaan minyak mentah.
Ibrahim mengungkapkan, para pelaku pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dan telah memperhitungkan kemungkinan besar akan adanya kenaikan lagi pada Oktober. Proyeksi suku bunga terbaru juga mengindikasikan setidaknya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini.
"Prospek kebijakan yang lebih ketat memberikan dukungan bagi Dolar AS dan menjaga imbal hasil obligasi Treasury tetap tinggi," terang dia.
.jpeg)
(Ilustrasi. Foto: dok MI)
Rupiah terus tertekan
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto pekan lalu untuk mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara turut memengaruhi sentimen mata uang. Sementara kenaikan harga minyak menambah tekanan bagi negara-negara pengimpor energi.
Selain itu, para pembuat kebijakan memperdebatkan revisi Undang-Undang No.17 Tahun 2003 yang dapat memungkinkan defisit anggaran lebih tinggi guna mendanai program sosial dan kesejahteraan.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pembahasan mengenai batas atas defisit sebesar tiga persen dari PDB yang diatur dalam undang-undang harus berlangsung secara konstruktif dan batas rasio utang sebesar 60 persen dari PDB tetap menjadi pelaksanaan pengelolaan APBN.
Kemudian, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Selain itu, BI melakukan pengelolaan struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market dan juga akan memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai dengan perolehan insentif.
Intervensi pun akan terus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Posisi cadangan devisa sebesar US146,5 miliar masih cukup untuk intervensi di pasar.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.880 per USD hingga Rp17.930 per USD," jelas Ibrahim.