Rupiah Pagi Ini di Level Rp17.922/USD

Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.

Rupiah Pagi Ini di Level Rp17.922/USD

Husen Miftahudin • 1 October 2026 09:52

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 1 Oktober 2026, rupiah hingga pukul 09.40 WIB berada di level Rp17.922 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 28 poin atau setara 0,16 persen dari Rp17.894 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.872 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.890 per USD hingga Rp17.940 per USD," papar Ibrahim dalam analisis hariannya.
 

 

Upaya perdamaian AS-Iran berlanjut


Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi yang menerima tanggapan AS melalui mediator Qatar di Doha terkait rencana tujuh hari yang bertujuan membangun kepercayaan antara Washington dan Teheran.

Urutan pelaksanaan langkah-langkah tersebut menjadi poin utama yang masih diperdebatkan, demikian ungkap seorang pejabat yang bukan berasal dari Iran namun mengetahui rincian pembicaraan tersebut kepada Reuters. Araqchi diperkirakan akan membahas tanggapan AS tersebut di Teheran pada Rabu, kata pejabat itu.

Pekan lalu, Iran mengajukan proposal tujuh hari yang menurut Araqchi dapat membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan lalu lintas maritim normal jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Presiden AS Donald Trump kemudian menolak proposal tersebut, yang memicu upaya mediasi lebih lanjut oleh Qatar.

Para mediator menyampaikan tanggapan yang mereka terima dari Washington pada hari Senin saat bertemu dengan Araqchi dan timnya dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat, ujar pejabat tersebut.

Dokumen yang sedang dibahas itu menguraikan periode pembangunan kepercayaan selama tujuh hari yang bertujuan membawa kedua belah pihak kembali pada versi yang lebih baik dari nota kesepahaman yang disepakati pada Juni, termasuk langkah-langkah konkret terkait program nuklir Iran. Perbedaan pendapat berpusat pada urutan pelaksanaan langkah-langkah tersebut, bukan pada komponen-komponen rencana itu sendiri, tambah pejabat tersebut.

Sementara itu, Presiden Fed New York John Williams menyatakan mereka tidak terburu-buru untuk menaikkan suku bunga. Williams menambahkan stabilitas harga merupakan fondasi bagi perekonomian dan inflasi diperkirakan akan mereda karena dampak guncangan ekonomi sebagian besar telah berlalu.

Alberto Musalem (Fed St. Louis) menyatakan kebijakan saat ini masih akomodatif, sementara Goolsbee mengatakan inflasi yang persisten ibarat bermain api. Di sisi lain, Gubernur Barr bersikap lebih lugas dengan menekankan perlunya kalibrasi ulang kebijakan serta kenaikan suku bunga lebih lanjut.


(Ilustrasi: Foto: Magnific)
 

Upaya BI jaga stabilitas rupiah


Dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan Bank Indonesia membeberkan tiga instrumen yang digunakan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dalam pekan ini kembali bergejolak, bahkan menyentuh angka Rp18 ribu per dolar AS kemarin yaitu kebijakan secara operasional, berupa instrumen spot, instrument DNDF (Domestic Non Deliverable Forward), maupun NDF (Non Deliverable Forward).

Sehingga bagi pelaku pasar dengan kebutuhan pemenuhan kewajiban impor maupun pembayaran impor yang dapat ditunda, bisa dilakukan dengan DNDF. Hal ini merupakan bagian untuk mendorong berkembangnya instrumen hedging.

Sementara, untuk pergerakan nilai tukar rupiah di pasar NDF([Non Deliverable Forward) yang berada di pasar luar negeri, transaksi tersebut tetap berjalan ketika pasar domestik Indonesia ditutup.

Selain itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Suhasil memastikan APBN 2027 dirancang secara pruden dan kredibel di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Pembahasan RAPBN 2027 berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan fragmentasi perdagangan dunia yang mengganggu rantai pasok, meningkatkan volatilitas harga, hingga menambah tekanan inflasi.

Sepanjang 2026, APBN digunakan secara fleksibel dan responsif untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk penanganan bencana, menjaga stabilitas harga serta ketersediaan energi dan pangan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan ancaman El Nino.

(Husen Miftahudin)