Rupiah Ikut-ikutan Melempem, Pagi Ini Balik ke Level Rp16.800-an

Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: dok MI.

Rupiah Ikut-ikutan Melempem, Pagi Ini Balik ke Level Rp16.800-an

Husen Miftahudin • 29 January 2026 09:48

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan setelah bangkit menguat dalam beberapa hari terakhir. Pelemahan rupiah ini mengekor IHSH yang dalam dua terakhir terus-terusan ambruk.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 29 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.37 WIB berada di level Rp16.802 per USD. Mata uang Garuda tersebut jeblok hingga 80 poin atau setara 0,48 persen dari Rp16.722 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.718 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan menguat.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.670 per USD hingga Rp16.730 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Rupiah Jaga Penguatan ke Rp16.722 per USD
 

Fed tahan suku bunga


Menurut Ibrahihm, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh keputusan FOMC yang akhirnya mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen pada pertemuan kebijakan pertamanya di 2026. Keputusan ini diambil setelah tiga kali penurunan suku bunga berturut-turut pada paruh kedua 2025.

FOMC menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung lapangan kerja maksimal dan mengembalikan inflasi ke target dua persen. Dari 12 anggota FOMC, 10 anggota memilih untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah.

Stephen Miran dan Christopher Waller memilih menentang tindakan tersebut. Mereka justru lebih memilih untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan tersebut.

The Fed juga mengumumkan FOMC dengan suara bulat menegaskan kembali pernyataan tentang tujuan jangka panjang dan strategi kebijakan moneter, yang mengartikulasikan pendekatannya terhadap kebijakan moneter pada pertemuan organisasi tahunannya.

Dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan ekonomi AS tumbuh dengan kecepatan yang solid tahun lalu dan memasuki 2026 dengan pijakan yang kokoh.

Namun, kebijakan moneter tidak berjalan sesuai rencana, Powell menegaskan kembali dan menambahkan Komite akan terus membuat keputusan pemotongan suku bunga dari pertemuan ke pertemuan berdasarkan data yang masuk.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Respons ponsitif pasar soal keberlanjutan stimulus


Di sisi lain, Ibrahim menilai pasar merespons positif terhadap kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang mengumumkan empat program stimulus 2025 akan dilanjutkan pada 2026.

Keempat stimulus tersebut meliputi PPh Final 0,5 persen bagi UMKM hingga 2029, PPh 21 DTP (Ditanggung Pemerintah) untuk pekerja sektor pariwisata, PPh 21 DTP untuk pekerja industri padat karya, serta diskon iuran JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja) dan JKM (Jaminan Kematian) bagi peserta Bukan Penerima Upah (BPU). 

Di tengah tekanan harga komoditas dan gejolak global, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) menjalankan peran strategis sebagai peredam guncangan (shock absorber). Sepanjang 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun (95,3 persen dari APBN), sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun (91,7 persen dari APBN). 

Defisit anggaran hingga akhir 2025 tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap PDB. Dana tersebut dialokasikan untuk program pembangunan nasional yang berdampak langsung ke masyarakat.

Realisasi belanja negara di antaranya untuk pelaksanaan program pembangunan nasional seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG), pembinaan program Koperasi Desa (KUD), paket stimulus 1 sampai dengan 4 selama 2025 yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat dan dunia usaha.

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan perbaikan kinerja dengan penurunan yield SBN 10 tahun ke level 6,41 persen. Angka ini turun signifikan dibandingkan posisi akhir 2024 yang sempat berada di atas tujuh persen, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap tata kelola fiskal Indonesia. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)