Rupiah Jumat Pagi Naik 0,11% ke Level Rp17.890/USD

Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.

Rupiah Jumat Pagi Naik 0,11% ke Level Rp17.890/USD

Husen Miftahudin • 9 October 2026 09:35

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penguatan.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 9 Oktober 2026, rupiah hingga pukul 09.26 WIB berada di level Rp17.890 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 25 poin atau setara 0,14 persen dari Rp17.915 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.885 per USD. Rupiah menguat tipis lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp17.890 per USD.

Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.910 per USD hingga Rp17.950 per USD," papar Ibrahim dalam analisis hariannya.
 

 

Pasar khawatir gangguan pasokan minyak


Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen konflik yang terus berlanjut antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran juga membuat pasar waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan lebih lanjut, terutama setelah kelompok tersebut menyerang kilang minyak di Riyadh awal pekan ini.

"Meski demikian, pasokan dari Timur Tengah terpantau meningkat pada September, dengan arus melalui Selat Hormuz sempat melampaui tingkat sebelum perang," papar Ibrahim.

Namun, ancaman terhadap pelayaran minyak di Teluk dan Selat Hormuz jalur yang sebelum perang mengangkut volume setara dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan bahan bakar global telah meningkat pada bulan Oktober seiring dengan konflik antara AS-Israel dan Iran yang memasuki bulan kedelapan.

Serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mencapai tingkat tertinggi pada pekan lalu (tertinggi sejak dimulainya perang Iran) menurut sumber keamanan maritim yang memantau insiden-insiden tersebut, di tengah upaya peningkatan ekspor oleh negara-negara produsen di kawasan Teluk.

Dalam insiden terbaru, proyektil menghantam sebuah kapal tanker di lokasi 51 mil laut di sebelah utara Madinat ash Shamal, Qatar, dan dilaporkan terdapat korban jiwa, demikian pernyataan badan United Kingdom Maritime Trade Operations pada hari Rabu.

Saat ini pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada September.

Namun, risiko inflasi yang terus berlanjut, yang sebagian didorong oleh tingginya harga energi membuat kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan pada bulan Desember tetap terbuka. Hari ini fokus pasar akan tertuju pada data mingguan klaim awal tunjangan pengangguran yang kan dirilis malam nanti.


(Ilustrasi: Foto: Magnific)
 

Keyakinan konsumen Indonesia tetap di zona optimistis


Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia tetap berada di zona optimistis. Namun pada September, optimisme tersebut sedikit memudar. IKK September tercatat 118,1 sedikit memudar dibandingkan data pada Agustus sebesar 118,5. IKK di atas 100 menandakan konsumen optimistis memandang perekonomian saat ini hingga enam bulan mendatang. 

Faktor yang membuat IKK terpeleset adalah Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) berada di 107,5. Lebih rendah dibandingkan Agustus yang sebesar 109,4. Artinya, konsumen memandang prospek perekonomian saat ini lebih suram dibandingkan saat memandang bulan sebelumnya.

Namun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat naik dari 127,6 pada Agustus menjadi 128,7 pada September. Ini berarti konsumen melihat prospek ekonomi hingga 6 bulan ke depan lebih cerah.

Selain itu, pemerintah melalui Kemenkeu memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Agustus 2026 tercatat mengalami defisit sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Realisasi pendapatan negara tercatat baru 65,2 persen dari total target APBN yang sebesar Rp3.153 triliun, sementara realisasi belanja negara tercatat Rp2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari target belanja yang mencapai Rp3.842 triliun.

Angka tersebut menurut para ekonom harus dibaca bersama dengan pos penerimaan yang masih berpotensi berubah, terutama restitusi. Kalau hanya melihat persentase realisasi, posisi APBN bisa terlihat lebih longgar daripada kondisi sebenarnya.

Kualitas penerimaan di balik angka tersebut harus dilperhatikan dengan restitusi pajak yang belum dibayarkan dan berpotensi membuat penerimaan bersih untuk sementara terlihat lebih tinggi, meskipun negara sebenarnya memiliki kewajiban pengembalian kepada wajib pajak.

Ketika restitusi dicairkan pada kuartal IV, terutama bersamaan dengan meningkatnya pengembalian PPN eksportir dan penyelesaian kewajiban pajak badan, penerimaan bersih dapat turun dan defisit melebar tanpa ada tambahan belanja baru.

"Hal ini bukan berarti seluruh restitusi yang belum cair akan otomatis menjadi tambahan defisit. Besarnya dampak tergantung pada stok restitusi yang masih menunggu pembayaran dan kapan pembayaran tersebut dilakukan," urai Ibrahim.

(Husen Miftahudin)