Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.
Kamis Sore, Rupiah Ditutup Turun 78 Poin ke Rp17.090/USD
Husen Miftahudin • 9 April 2026 15:57
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami penurunan setelah sempat naik banyak kemarin.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 9 April 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.090 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 78 poin atau setara 0,46 persen dari posisi Rp17.012 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 78 poin, sebelumnya sempat melemah 90 poin di level Rp17.090 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.012 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Di perdagangan hari ini, rentang pergerakan rupiah berada pada level Rp17.030 per USD hingga Rp17.104 per USD. Sementara year to date (ytd) return tercatat 2,46 persen.
Sementara itu, data Yahoo Finance justru menunjukkan rupiah berada di zona hijau pada posisi Rp17.080 per USD. Rupiah menguat tipis tujuh poin atau setara 0,04 persen dari Rp17.087 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.082 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun sebanyak 73 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.009 per USD.
| Baca juga: Rupiah Dibuka ke Rp17.030/USD Kamis Pagi |
Ketegangan geopolitik kembali meningkat
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen gangguan di Selat Hormuz yang terus berlanjut dan ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah. Kondisi ini mengaburkan prospek pasokan, karena jalur penting yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak global sebagian besar tetap terblokir meskipun ada gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
"Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada, dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses," jelas Ibrahim.
Menurut dia, sentimen pasar semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon, yang berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh. Laporan menunjukkan jalur kapal tanker melalui selat dihentikan setelah serangan tersebut, meskipun pejabat AS memberi sinyal tanda-tanda awal pembukaan kembali sebagian.
Iran mengatakan pembicaraan damai dengan AS akan 'tidak masuk akal' setelah serangan terbaru, dengan alasan serangan tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang baru diumumkan.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, yang memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz dan mengurangi hambatan pasokan.
Namun, para analis memperingatkan gangguan struktural pada rantai pasokan dan infrastruktur di seluruh wilayah tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki.
Sementara itru, menurut risalah FOMC Maret yang dirilis pada Rabu, para pejabat Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga tahun ini, bahkan ditengah tingkat ketidakpastian yang tinggi dari perang Iran dan tarif.
"Para pembuat kebijakan menyatakan mereka perlu tetap 'gesit' saat mereka mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi, yang terus berada di atas target Fed, dan perekrutan tenaga kerja, yang sebagian besar stagnan selama setahun terakhir," urai Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Proyeksi ekonomi Indonesia turun
Di sisi lain, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Meski direvisi turun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2 persen.
Prospek ekonomi kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI).
Sebelumnya, OECD juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan diperkirakan berada di level 4,8 persen dari sebelumnya 5,0 persen. Revisi ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik.
Pesimisme Bank Dunia dan OECD berbanding terbalik dengan pemerintah yang optimis memproyeksikan ekonomi 2026 tumbuh kuat di kisaran 5,4 persen sampai 5,7 persen, didorong oleh konsumsi domestik, investasi, dan program biodiesel B50, dengan optimisme mencapai enam persen melalui transformasi struktural.
"Fokusnya adalah kedaulatan pangan/energi, kebijakan fiskal pruden, dan percepatan investasi untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global," urai Ibrahim.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Jumat besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.090 per USD hingga Rp17.140 per USD," jelas Ibrahim.