Rupiah Naik 0,48% ke Level Rp17.941/USD Pagi Ini

Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.

Rupiah Naik 0,48% ke Level Rp17.941/USD Pagi Ini

Husen Miftahudin • 5 August 2026 09:55

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penguatan, setelah dalam beberapa perdagangan terakhir terus melemah.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 5 Agustus 2026, rupiah hingga pukul 09.45 WIB berada di level Rp17.941 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 86 poin atau setara 0,48 persen dari Rp18.027 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.032 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp18.030 per USD hingga Rp18.080 per USD," jelas Ibrahim.

Ibrahim menjelaskan, pergerakan pasar keuangan masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari luar negeri, perhatian investor tertuju pada perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara dari dalam negeri pelaku pasar menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026.
 

 

Konflik AS-Iran kembali memanas


Ibrahim mengatakan, ketidakpastian geopolitik meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Minggu menyatakan menunda rencana serangan terhadap Iran untuk memberi ruang bagi proses diplomatik terkait konflik dan pengaturan Selat Hormuz.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membantah pernyataan tersebut dengan menegaskan tidak ada negosiasi maupun agenda pertemuan dengan Amerika Serikat, Senin, 4 Agustus 2026. Situasi semakin memanas setelah Iran mengancam akan menargetkan kapal perang AS yang berupaya mengubah jalur pelayaran yang telah ditetapkan Teheran di Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan Mayor Jenderal Mohsen Rezaee, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Menurutnya, setiap kapal perang AS yang mencoba memaksakan koridor pelayaran baru akan menjadi sasaran.

Di sisi lain, ketegangan di kawasan mulai memengaruhi aktivitas pelayaran internasional. Data pelayaran menunjukkan enam kapal tanker berbendera Arab Saudi mengubah rute melalui Teluk Aden menuju Afrika bagian selatan. Sementara itu, dua kapal tanker bermuatan minyak Arab Saudi tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga dilaporkan melambat setelah muncul laporan serangan terhadap sejumlah kapal di kawasan tersebut. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia karena menjadi lintasan sebagian besar perdagangan minyak mentah global.

Di sisi ekonomi global, aktivitas manufaktur Amerika Serikat menunjukkan perbaikan. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur pada Juli meningkat menjadi 55,6 dari 53,3 pada bulan sebelumnya. Angka tersebut juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 54.

"Data itu mencerminkan permintaan yang masih kuat, meningkatnya kepastian terkait kebijakan tarif, serta meredanya gangguan rantai pasok akibat konflik di kawasan Teluk," papar Ibrahim.

Investor selanjutnya menanti data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang dijadwalkan dirilis Selasa malam. Fokus pasar sepanjang pekan juga tertuju pada laporan nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat yang akan diumumkan pada Jumat sebagai indikator utama kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Neraca perdagangan Indonesia berbalik defisit


Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar USD450 juta.

Defisit tersebut terutama berasal dari sektor minyak dan gas (migas) yang mencatat defisit USD3,49 miliar, dipicu tingginya impor hasil minyak dan minyak mentah. Nilai ekspor Indonesia pada Juni tercatat USD25,46 miliar, lebih rendah dibandingkan impor yang mencapai USD25,91 miliar.

Adapun, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 tercatat sebesar USD145 miliar, turun dari posisi akhir Desember 2025 yang mencapai USD156,5 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Meski turun sekitar USD11 miliar, cadangan devisa dinilai masih berada pada level yang aman karena mampu membiayai sekitar 5,4 bulan impor, lebih tinggi dibandingkan standar kecukupan internasional yang setara tiga bulan impor.

Menurut Ibrahim, pelaku pasar juga memilih bersikap hati-hati menjelang rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II berada di kisaran 5,4 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi kuartal sebelumnya yang mencapai 5,6 persen.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, antara lain tingginya harga minyak mentah dunia, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta arus keluar modal (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026, pemerintah menyiapkan paket stimulus baru, termasuk pemberian insentif bagi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

(Husen Miftahudin)