Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Adam Dwi.
Kamis Pagi, Rupiah Nangkring di Level Rp17.905/USD
Husen Miftahudin • 23 July 2026 09:54
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami kenaikan.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 23 Juli 2026, rupiah hingga pukul 09.45 WIB berada di level Rp17.905 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 12 poin atau setara 0,07 persen dari Rp17.917 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.905 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.920 per USD hingga Rp17.970 per USD," jelas Ibrahim.
Pasar pelototi peningkatan bentrokan militer AS-Iran
Pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap meningkatnya bentrokan militer antara AS dan Iran, dimana pasukan AS mengatakan mereka mulai menyerang target militer Iran untuk malam ke-11 berturut-turut, menargetkan lokasi peluncuran rudal dan drone, fasilitas komando dan kendali, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur militer lainnya, seiring Washington mengintensifkan kampanyenya melawan Teheran.
Sementara Teheran melanjutkan serangan balasan terhadap posisi militer AS di seluruh wilayah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.
Selain itu, investor juga memantau gerakan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran setelah mengancam blokade angkatan laut yang memengaruhi pengiriman yang terkait dengan Saudi di Laut Merah, yang mendorong beberapa kapal tanker minyak untuk mengubah rute dan menimbulkan kekhawatiran atas ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia.
Ancaman blokade ini muncul ketika lalu lintas maritim telah terganggu oleh permusuhan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global, yang menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat semakin mengurangi pasokan yang tersedia dan meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.
Ekspektasi The Fed mungkin akan meningkatkan laju kenaikan suku bunga pada 2026 meningkat tajam, didorong oleh harga minyak yang tinggi karena gangguan pasokan di Teluk memicu kekhawatiran inflasi dan memicu spekulasi tentang suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Data Prime Terminal menunjukkan probabilitas sebesar 78 persen The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuannya minggu depan, sementara kemungkinan kenaikan suku bunga pada September berada di sekitar 68 persen.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
APBN defisit Rp196,5 triliun
Di sisi lain, APBN membukukan defisit sebesar Rp196,5 triliun pada akhir Juni 2026 atau semester I-2026, defisit APBN itu setara dengan 0,76 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sedangkan, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun per Juni 2026. Realisasi itu setara 46,3 persen dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.153,6 triliun.
Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp1.656 triliun per Juni 2026. Realisasi itu setara 43,1 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun. Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara.
Sedangkan, target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun atau sudah terlewati. Adapun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak sedikit penurunan defisit APBN.
Pada akhir Juni 2025, defisit APBN mencapai Rp197 triliun atau setara 0,81 persen dari PDB. Artinya, defisit APBN Maret 2026 yang sebesar Rp196,5 triliun turun 0,25 persen dibandingkan APBN Juni 2025. Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar Rp689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB.
Di sisi lain, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 5,75 persen. Bersamaan dengan keputusan ini, BI menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50 persen.
Adapun, dengan keputusan menahan suku bunga acuan ini, BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
BI memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas.