Kamis Siang, Rupiah Naik ke Level Rp17.692/USD

Rupiah dan dolar AS. Foto: MI/Usman Iskandar.

Kamis Siang, Rupiah Naik ke Level Rp17.692/USD

Husen Miftahudin • 3 September 2026 11:57

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penguatan.

Mengutip data Bloomberg, Kamis, 3 September 2026, rupiah hingga pukul 11.46 WIB berada di level Rp17.692 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik sebanyak 71 poin atau setara 0,49 persen dari Rp17.763 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.685 per USD. Rupiah menguat hingga 80 poin atau setara 0,45 persen dari Rp17.765 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.

"Rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.760 per USD hingga Rp17.800 per USD," jelas Ibrahim dalam analisis hariannya.
 

 

Konflik AS-Iran memanas


Ibrahim mengungkapkan, gejolak geopolitik global kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat (AS) menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran. Di dalam negeri, tekanan inflasi dan kenaikan harga pangan menjadi perhatian terhadap daya beli masyarakat.

Militer AS menyatakan telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan terhadap Iran pada Selasa malam. Serangan menyasar sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) di tengah eskalasi konflik yang meningkat akibat aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir.

Komando Pusat AS melalui platform X menyebut serangan menyasar sejumlah fasilitas IRGC, termasuk situs pertahanan udara, sistem radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan penebaran ranjau, serta situs komunikasi. Laporan Axios yang mengutip pejabat AS menyebut militer AS juga menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran dalam serangan tersebut.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan dirinya tidak berupaya memaksa Iran kembali ke meja perundingan. "Saya tidak berusaha memaksa Iran untuk duduk di meja perundingan," tulis Trump di media sosial.

Trump juga menyerukan masyarakat Iran untuk melawan pemerintahnya. Iran kemudian membalas rentetan serangan AS pada Selasa. Aksi saling serang tersebut menjadi salah satu eskalasi paling serius dalam beberapa pekan terakhir. Konflik AS-Iran juga meningkatkan perhatian terhadap potensi dampaknya terhadap harga energi global.

Selain geopolitik, pasar keuangan global kembali mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah muncul pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve. Retorika keras Ketua Fed Kevin Warsh mengenai inflasi dalam Simposium Jackson Hole kembali memicu spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve 15-16 September berada di sekitar 65 persen. Angka tersebut meningkat dari sekitar 40 persen sepekan sebelumnya.

Gubernur Fed Michael Barr turut memperkuat nada hawkish pada Selasa. Ia menilai inflasi yang terus berada di atas target menciptakan risiko bagi perekonomian. Barr mengatakan dirinya mendukung suku bunga tetap stabil jika terdapat keyakinan inflasi sedang melambat. Namun, ia memperingatkan kenaikan suku bunga dapat diperlukan jika inflasi tidak segera turun.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Inflasi Indonesia naik pada Agustus 2026


Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia meningkat pada Agustus 2026. Kenaikan harga makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu sumber utama tekanan inflasi.

Secara bulanan atau month to month (MtM), inflasi umum pada Agustus 2026 mencapai 0,21 persen. Angka tersebut berbalik dari deflasi sebesar 0,14 persen pada bulan sebelumnya.

Sementara secara tahunan atau year on year (YoY), inflasi mencapai 3,19 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi Juli 2026 sebesar 2,88 persen. Kenaikan harga komoditas pangan menjadi perhatian karena tekanan tersebut berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat apabila berlanjut.

Tekanan inflasi domestik sebagian diimbangi oleh kinerja perdagangan Indonesia. Pada Juli 2026, surplus perdagangan tercatat didukung kinerja ekspor yang lebih baik dari perkiraan.

Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar, meningkat 6,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor migas tercatat sebesar USD0,79 miliar atau turun 14,58 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor nonmigas tumbuh 6,84 persen dengan nilai mencapai USD25,45 miliar.

Kinerja ekspor tersebut menjadi salah satu penopang perekonomian di tengah tekanan harga pangan dan ketidakpastian global.

Secara terpisah, Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2027 berada di kisaran 5,2 persen hingga 6 persen.

Destry juga memperkirakan nilai tukar rupiah pada tahun depan berada di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS. Inflasi diproyeksikan tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus-minus 1 persen. Selain itu, neraca pembayaran Indonesia (NPI) diperkirakan tetap sehat.

Ia juga menilai imbal hasil investasi yang menarik dapat mendukung perkembangan pasar keuangan, sementara cadangan devisa yang memadai menjadi salah satu faktor pendukung stabilitas ekonomi nasional.

(Husen Miftahudin)