Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.
Selasa Pagi, Rupiah Sentuh Rp18.000/USD
Husen Miftahudin • 29 September 2026 09:31
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 29 September 2026, rupiah hingga pukul 09.22 WIB berada di level Rp18.000 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 22 poin atau setara 0,12 persen dari Rp17.978 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.960 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.900 per USD hingga Rp17.950 per USD," papar Ibrahim dalam analisis hariannya.
Iran masih buka pintu negosiasi
Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh pernyataan Iran yang tidak akan melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Usulan Iran tersebut memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sembari negosiasi yang lebih luas dilanjutkan, dengan syarat Washington mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan tekanan militer, menghapus sanksi atas penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata. Iran menyatakan tetap berkomitmen pada syarat-syarat tersebut meskipun Trump menolaknya.
Kendati demikian, menurut laporan Axios, Trump mengatakan ia memperkirakan negosiasi dengan kedua belah pihak akan kembali berlangsung minggu ini. Qatar telah berperan sebagai penengah yang aktif berkomunikasi dengan kedua pihak dalam upaya menghidupkan kembali perundingan tersebut.
Sementara itu, situasi Selat Hormuz memanas setelah delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz.
Para anggota Korps Marinir tersebut tidak mengalami luka serius. Namun, mereka dilaporkan mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis setelah mengalami gejala seperti gegar otak, termasuk sakit kepala.
Menambah kekhawatiran terkait pasokan, pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman juga telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal komersial di Laut Merah. Pada Sabtu, Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh kelompok Houthi; peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah mereka mencegat enam rudal yang ditujukan ke arah Taif dan wilayah Yanbu.
Agenda ekonomi AS akan jauh lebih padat pada minggu ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada hari Rabu, diikuti oleh data ISM Manufacturing PMI pada Kamis dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan.

Ilustrasi: Foto: Magnific.
Kenaikan harga minyak tingkatkan risiko ekonomi RI
Dari dalam negeri, harga minyak dunia yang bertahan di atas USD90 per barel meningkatkan risiko terhadap perekonomian Indonesia. Dampak kenaikan harga minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, yakni inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal.
Adapun ssumsi Indonesia Crude Price dalam APBN 2026 berada di USD70 per barel, sedangkan ICP Juli telah mencapai USD81,68 per barel. ICP pada kisaran USD80-USD90 per barel masih dapat dikelola apabila kenaikan berlangsung sementara. Namun, tekanan fiskal akan semakin besar jika ICP bertahan di kisaran USD90-USD100 per barel atau lebih selama beberapa bulan.
"Dalam kondisi tersebut, pemerintah memiliki sejumlah opsi, mulai dari menambah subsidi dan kompensasi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan harga energi domestik. Berdasarkan estimasi dalam dokumen fiskal pemerintah, setiap kenaikan ICP USD1 per barel dapat meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun sampai Rp4 triliun," terang Ibrahim.
Namun, belanja negara berpotensi naik sekitar Rp10,3 triliun, sehingga defisit dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun. Sebagai negara net oil importer, Indonesia menghadapi tekanan fiskal lebih besar ketika kenaikan harga minyak berlangsung lama.
Kondisi perekonomian akhir September tak lepas dari tantangan. Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Keputusan diambil di tengah berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Meski melemah, posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap solid di kisaran USD146,5 miliar dan diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan yang memadai untuk melakukan stabilisasi nilai tukar.
Langkah pelonggaran moneter dalam waktu dekat diproyeksikan makin terbatas. Hal ini disebabkan oleh laju inflasi bulan Agustus yang naik menjadi 3,19 persen secara tahunan dari posisi 2,88 persen pada bulan sebelumnya, ditopang oleh kenaikan komponen bahan makanan bergejolak dan inflasi inti, ditambah adanya potensi risiko dari kenaikan harga energi dunia serta ancaman fenomena cuaca El Nino terhadap ketersediaan pangan.