Rupiah dan dolar AS. Foto: MI/Usman Iskandar.
Rupiah Pagi Ini di Level Rp17.766/USD
Husen Miftahudin • 2 September 2026 09:42
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 2 September 2026, rupiah hingga pukul 09.28 WIB berada di level Rp17.766 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 22 poin atau setara 0,12 persen dari Rp17.788 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.722 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.
"Rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.740 per USD hingga Rp17.790 per USD," jelas Ibrahim dalam analisis hariannya.
Baca Juga :
Dolar AS Gilas 6 Mata Uang Utama Dunia
Konflik Timur Tengah tekan rupiah
Ibrahim mengungkapkan, kembali memanasnya situasi di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pasar keuangan.
Presiden AS Donald Trump mengancam melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran setelah terjadi aksi saling serang secara langsung untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir pada Minggu. Kondisi tersebut meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya sempat memasuki fase kebuntuan ekonomi.
Upaya mediator, termasuk Qatar dan Oman, untuk mendorong kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz sejauh ini belum menunjukkan hasil yang berarti. Jalur tersebut sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang pecah pada akhir Februari. Iran menutup jalur pelayaran tersebut setelah AS dan Israel menyerang negara tersebut pada 28 Februari.
Risiko terhadap pelayaran dan pasokan minyak juga tercermin dari laporan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Selasa. Lembaga tersebut melaporkan sebuah kapal tanker terkena tiga proyektil saat berlayar keluar dari Selat Hormuz. Tidak ada laporan korban jiwa maupun dampak terhadap lingkungan.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pasar antisipasi kebijakan Fed
Sentimen lain berasal dari arah kebijakan moneter AS. Pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam Simposium Jackson Hole dinilai bernada hawkish dan kembali meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga paling cepat pada September. Kondisi tersebut turut mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek.
Menurut perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 66 persen untuk kenaikan suku bunga pada September. Probabilitas tersebut meningkat dari sekitar 38 persen sebelum pidato Warsh.
Pasar pada Rabu juga mencermati rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur dan JOLTS Job Openings. Sementara itu, perhatian utama pekan ini tertuju pada data ketenagakerjaan AS, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.
PMI Manufaktur Indonesia kontraksi lagi
Dari dalam negeri, kinerja sektor manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut tercermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) yang turun menjadi 49,8 pada Agustus dari 50,2 pada Juli 2026.
Level PMI di bawah ambang batas 50,0 menunjukkan sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah mencatat ekspansi tipis pada bulan sebelumnya.
S&P Global mencatat pelemahan PMI manufaktur pada Agustus terutama dipengaruhi kembali turunnya output dan penyerapan tenaga kerja. Produksi dan ketenagakerjaan sektor manufaktur Indonesia tercatat menurun dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Sementara itu, Indonesia mencatat inflasi 0,21 persen secara bulanan (month to month/MtM) pada Agustus 2026. Angka tersebut berbalik dari deflasi 0,14 persen pada Juli 2026. Secara tahunan, inflasi pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen. Adapun secara tahun kalender, inflasi tercatat 1,86 persen (year to date/YtD).
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus sebesar USD120 juta pada Juli 2026. Capaian tersebut berbalik dari defisit USD450 juta pada Juni 2026. Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar, meningkat 6,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekspor migas tercatat sebesar USD0,79 miliar atau turun 14,58 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor nonmigas meningkat 6,84 persen menjadi USD25,45 miliar.