Kampung Bahari Lagi-lagi Digerebek Polisi, 27 Orang Diamankan

3 November 2026 08:19

Jakarta: Kampung Bahari kembali menjadi sasaran operasi besar pemberantasan narkoba. Meski berkali-kali digerebek, kawasan ini masih terus dikaitkan dengan aktivitas peredaran narkoba. Lantas apa saja fakta pengungkapan terbaru dalam penggerebekan kali ini? 


Kronologi penggerebekan 1 November 2026


Operasi penggerebekan ini dilakukan pada hari Minggu, 1 November 2026, sekitar pukul 05.30 WIB. Tim gabungan mulai menyisir kawasan Kampung Bahari dan Kampung Muara Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Operasi melibatkan sekitar 1.816 personel gabungan dari Bareskrim Polri, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Satresnarkoba Polres Metro Jakarta Utara, Brimob, Badan Narkotika Nasional, dan unsur kepolisian lainnya.

Mulainya operasi ini sangat menarik. Para personel mengakses lokasi sasaran dengan menggunakan KRL Commuter Line. Mereka turun dari kereta lengkap dengan seragam, dan hal ini sebenarnya tidak tanpa sebab. Dalam tindakan lanjutannya, para personel gabungan ingin menelusuri lapak-lapak di bantaran rel yang paling sering diduga menjadi lokasi transaksi barang terlarang ini, baru kemudian menyusuri permukiman warga.

Fakta menarik lainnya adalah operasi penggerebekan kali ini juga mengalami perlawanan dari oknum warga sekitar. Berdasarkan pendalaman pihak kepolisian, perlawanan tersebut dilakukan justru untuk mengalihkan perhatian kepolisian dari titik utama sarang target operasi. Namun, kepolisian tetap melanjutkan operasi penggerebekannya dari kawasan bantaran menuju ke wilayah permukiman warga.

Barang bukti dan orang yang diamankan


Dari hasil penggerebekan kali ini, barang bukti dan pelaku yang diamankan di antaranya adalah 27 orang, ratusan gram sabu, serta ribuan butir pil ekstasi. Hal lain yang tidak kalah menarik adalah barang bukti pendukung yang turut disita, seperti mesin pencetak ekstasi, senjata api, dan senjata tajam.

Dua hal ini mengindikasikan adanya praktik pembuatan atau pengedaran narkoba di lokasi tersebut, sekaligus upaya perlawanan atau mengamankan diri bagi para pelaku. Selain itu, petugas juga mengamankan bong atau alat hisap sabu, pil psikotropika, dan uang tunai. Keberadaan mesin pencetak, senjata api, senjata tajam, serta uang tunai mengindikasikan bahwa Kampung Bahari masih diduga kuat menjadi tempat terjadinya peredaran, produksi, dan konsumsi narkoba secara melawan hukum.

Mengapa Kampung Bahari masih identik dengan narkoba? 


Dari penelusuran catatan redaksi, rekam jejak penggerebekan narkoba di Kampung Bahari sejak 2013 sampai 2026 —atau kurang lebih 13 tahun— selalu identik dengan empat hal.

Pertama, keberadaan lapak di bantaran rel masih menjadi sasaran dugaan tempat transaksi. Lokasinya yang memanjang, padat, dan dipenuhi banyak lapak terus dimanfaatkan sebagai sarana transaksi narkoba.

Kedua, adanya fasilitas khusus untuk konsumsi narkoba yang pernah ditemukan pada tahun 2024 lalu. Lokasi konsumsi tersebut bahkan dilengkapi fasilitas layaknya sebuah rumah, seperti pendingin ruangan (AC), kasur lipat, hingga kamera CCTV untuk memantau situasi sekitar.

Ketiga, di wilayah ini ditemukan keberadaan bandar dan pengedar, tidak hanya sekadar pengguna. Pemantauan aparat penegak hukum terhadap lokasi yang dihuni bandar dan pengedar membutuhkan penelusuran jaringan yang biasanya sangat luas.

Keempat, kondisi sosial dan pemukiman yang padat penduduk. Kapolda Metro Jaya sebelumnya juga pernah menyoroti keberadaan rumah-rumah liar, lapak pemulung, dan tempat-tempat yang diduga menjadi lokasi konsumsi narkoba. Dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang padat dan berada pada kelas ekonomi tertentu, penanganan peredaran narkoba di lokasi ini menghadapi tantangan tersendiri. Namun penegakan hukum tetap harus dijalankan, dengan catatan bahwa tidak semua warga pemukiman Kampung Bahari adalah pengedar maupun konsumen narkoba.

Kompleksitas pemberantasan jaringan narkoba


Masih dalam studi kasus Kampung Bahari, pertanyaannya adalah: mengapa selama belasan tahun penggerebekan dilakukan, Kampung Bahari tidak pernah sepenuhnya bersih dari peredaran narkotika? Jawabannya terletak pada kompleksitas pemberantasan jaringannya.

Sederhananya, peredaran narkoba di sebuah wilayah adalah bagian dari suatu jaringan produsen, pengedar, dan penjual. Identifikasi terhadap jaringan pemberantasan narkoba terkadang melebar ke atas dan tidak selalu makin ramping di tingkat bawah. Penangkapan bandar besar atau penggerak utama tidak otomatis berarti pemberantasan secara menyeluruh telah tercapai.

Gambaran jaringannya melibatkan banyak peran yang berbeda: pengedar utama dan pengendali jaringan merupakan dua oknum yang berbeda. Ditambah lagi dengan pemasok narkotika serta bahan baku. Kemudian ada orang-orang yang diberdayakan menjadi pengedar di tingkat lokal. Setelah itu, tugas kurir dan penyimpan barang juga dilakukan oleh orang yang berbeda.  Selanjutnya ada lokasi transaksi dan konsumsi—seperti yang ditemukan di Kampung Bahari—serta pengaturan aliran uang. Jaringan ini tidak hanya terdiri dari enam kelompok tersebut, tetapi juga melibatkan banyak perantara (middleman) yang ditempatkan untuk mengelabui aparat sehingga struktur jaringannya menjadi bercabang dan sangat luas.

Meski Kampung Bahari sudah menjadi objek penertiban atau penggerebekan secara berkali-kali, Dirresnarkoba Polda Metro Jaya, Kombes Bismo Teguh Prakoso, menegaskan bahwa kepolisian akan tetap melakukan operasi, mengejar bandar, serta membongkar lapak-lapak agar tidak disalahgunakan kembali. Berdasarkan catatan redaksional dari penelusuran 13 tahun terakhir, pemetaan wilayah Kampung Bahari—termasuk keberadaan lapak-lapak—tetap menjadi hal utama yang perlu didalami oleh kepolisian untuk pemberantasan secara struktural.

Meskipun peristiwa ini masih terus berulang, bukan berarti penertiban harus berhenti. Kita tentu berharap penegakan hukum terus dikerahkan dengan mengidentifikasi masalah struktural dan sosial agar penyelesaiannya dapat menyentuh akar masalah, bukan sekadar di permukaan saja.

Sumber: Redaksi Metro TV

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X