Rupiah di Level Rp17.717/USD Pagi Ini

Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.

Rupiah di Level Rp17.717/USD Pagi Ini

Husen Miftahudin • 16 September 2026 09:31

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 16 September 2026, rupiah hingga pukul 09.20 WIB berada di level Rp17.720 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 23 poin atau setara 0,13 persen dari Rp17.697 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.682 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.690 per USD hingga Rp17.750 per USD," papar Ibrahim dalam analisis hariannya.
 

 

Konflik geopolitik kian memanas


Ibrahim mengungkapkan pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi pada Senin, sembari memperkuat posisi mereka di titik-titik strategis di sepanjang Laut Merah.

Posisi-posisi tersebut juga memungkinkan kelompok itu melancarkan lebih banyak serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab, sehingga mengancam pasokan minyak di kawasan tersebut.

Houthi menyerang sejumlah target di Arab Saudi pada hari Senin, yang semakin mengancam ekspor minyak negara itu setelah serangan pekan sebelumnya melumpuhkan operasional pipa minyak lintas-negara (timur-barat) milik Riyadh.

Serangan ofensif Houthi ini membuka front baru dalam konflik Timur Tengah; para analis memperkirakan perkembangan ini dapat mengganggu tambahan empat sampai lima persen dari pasokan global.

Kemudian, pembicaraan mengenai Selat Hormuz ditunda; Iran menyatakan tidak akan ada dialog dengan AS sampai syarat-syarat mereka dipenuhi. Oman pada Minggu menunda pertemuan yang sedianya digelar hari Senin antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz. Pihak Muscat tidak merinci kapan pertemuan tersebut akan dilaksanakan.

Presiden AS Donald Trump pada Senin kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai. Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut dan menyatakan tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat mereka dipenuhi, terutama tuntutan agar AS mematuhi ketentuan gencatan senjata bulan Juni yang kini sudah tidak berlaku lagi.

Di sisi lain, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Jumat hampir memastikan langkah kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuannya minggu ini. Data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa CPI umum (headline CPI) naik 0,4 persen secara bulanan (MoM) pada Agustus, meningkat dari 0,1 persen pada Juli, sementara CPI inti naik 0,3 persen pada periode yang sama naik dari 0,2 persen dan mencatatkan laju tercepat dalam empat bulan terakhir.

Menurut CME FedWatch Tool, pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 89 persen untuk kenaikan suku bunga, naik dari sekitar 59,4 persen pada pekan sebelumnya.


(Ilustrasi. Foto: dok MI)
 

Harapan terhadap Menkeu baru


Sementara itu, lanjut Ibrahim, pemerintah membutuhkan sosok yang mampu mengembalikan kepastian dan kredibilitas dalam pengelolaan fiskal serta memanfaatkan anggaran negara guna mendorong pertumbuhan.

"Sosok yang cocok untuk mengganti posisi Purbaya Yudi Sadewa adalah Suhasil Nazara, sehingga beliau dilantik menjadi Menteri Keuangan yang baru. Penunjukannya akan memperkuat kepercayaan terhadap disiplin fiskal dan kerangka defisit di bawah tiga persen," tutur Ibrahim.

Akan tetapi, jelas dia, tantangan yang menunggu Suahasil sejatinya jauh lebih besar daripada sekadar menjaga angka defisit. Sebab, beliau harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, membiayai program prioritas, menghadapi tekanan harga energi global, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia.

Pemerintah memiliki ambisi pertumbuhan cukup tinggi. Dalam RAPBN 2027, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai enam persen, sementara belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun. 

Pendapatan negara ditargetkan Rp3.426 triliun, sehingga pembiayaan mencapai Rp571,2 triliun dengan defisit 2,4 persen dari PDB. Angka-angka itu sebenarnya sudah menunjukkan dilema yang akan dihadapi Suahasil.

Di satu sisi, pemerintah ingin menggunakan APBN sebagai mesin pertumbuhan sehingga belanja harus cukup besar untuk mendorong konsumsi, investasi, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, serta berbagai program prioritas pemerintah.

"Suhasil memang bukan wajah baru di Kementrian Keuangan, beliau menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan sebelumnya bekerja dekat dengan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan dengan tiga masa kepemimpinan presiden."

"Sebagai teknokrat fiskal yang berpengalaman dari internal Kementerian Keuangan, pengangkatan Suahasil tidak terlalu banyak mengejutkan pasar. Suahasil sebagai pilihan yang menjamin kesinambungan dan kredibilitas," tegas Ibrahim.

(Husen Miftahudin)