Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.
Jumat Pagi, Rupiah Naik ke Level Rp17.736/USD
Husen Miftahudin • 18 September 2026 09:47
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami kenaikan.
Mengutip data Bloomberg, Jumat, 18 September 2026, rupiah hingga pukul 09.37 WIB berada di level Rp17.736 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 17 poin atau setara 0,10 persen dari Rp17.753 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.748 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.750 per USD hingga Rp17.790 per USD," papar Ibrahim dalam analisis hariannya.
Baca Juga :
Berbalik Melemah, Reli 6 Hari Dolar AS Terhenti
Konflik AS-Houthi mereda
Ibrahim mengungkapkan pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang merespon positif adanya pembicaraan antara AS dan kelompok Houthi yang membantu meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah.
Reuters melaporkan, AS dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran mengadakan dialog selama akhir pekan. Dalam pertemuan itu, Houthi menegaskan kembali komitmen mereka terhadap gencatan senjata tahun 2025 dan menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal AS atau Israel.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu malam mengulangi klaimnya bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai dan AS diharapkan sudah mendekati akhir dari perang mereka. Namun, Washington dan Teheran masih berselisih mengenai Selat Hormuz, di mana aktivitas pelayaran melalui jalur air vital tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Kemudian, Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,0 persen. Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan kembali kekhawatirannya mengenai inflasi, dengan menyatakan bahwa terlalu banyak kategori produk dan layanan yang menunjukkan kenaikan harga tahunan di atas tiga persen dalam periode 6 dan 12 bulan. Warsh mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Namun, Presiden AS Donald Trump pada Rabu menuntut bank sentral AS memangkas suku bunga menjadi 1,0 persen atau lebih rendah, beberapa jam setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2023.

Ilustrasi: Foto: Magnific.
Menkeu Suhasil komitmen jaga keuangan negara
Dari dalam negeri, Menkeu Suhasil menegaskan komitmennya untuk menjaga keuangan negara dan memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus menjadi instrumen yang mampu mendorong pertumbuhan sekaligus mengelola, menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
Mengelola keuangan negara dimaksudkan untuk mendukung perekonomian dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Manfaat APBN bagi masyarakat dan perekonomian diwujudkan melalui berbagai aktivitas ekonomi, antara lain konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, serta kegiatan ekspor.
Kemudian, ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali mengerek suku bunga acuan tampak semakin menyempit menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan bergulir pada 22–23 September 2026. Sinyalemen bertahannya status quo kebijakan moneter semakin menguat di kalangan analis.
"Langkah agresif BI sebelumnya menjadi alasan utama mengapa bank sentral tak perlu lagi tergesa-gesa memutar kemudi moneter. Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed)," terang Ibrahim.
Fundamental makroekonomi yang perlahan mengeras turut menjadi tameng bagi BI. Kondisi nilai tukar rupiah yang berangsur stabil pada kisaran Rp17.300 per USD sampai Rp17.800 per USD, aliran modal asing (capital inflow) yang kembali deras masuk ke pasar domestik, serta postur kebijakan fiskal yang lebih disiplin, secara kolektif memperkuat ruang bagi bank sentral untuk sekadar memantau situasi tanpa perlu menarik tuas rem tambahan.